Program parodi politik Republik Mimpi yang disiarkan MetroTV terancam disomasi karena kalangan pemerintah tidak merasa nyaman dengan content tayangannya.
“Pendidikan politik seperti itu tidak benar, tapi saya tidak bisa melarang. Saya kan mempelajari, jika memungkinkan, kita akan melayangkan somasi,” kata Menkominfo Sofyan Djalil seperti dikutip Detikcom.
Wah, set-back lagi nih. Mengapa pemerintah lebih suka mengurusi program acara TV tertentu, sementara tayangan lainnya yang juga tak mendidik, dibiarkan begitu saja? Tayangan sinetron yang lebih menjual mimpi, tayangan kekerasan tanpa sensor atau film horor yang tak masuk akal malah tidak diutak-atik…

29 tanggapan so far ↓
Jupri // Maret 5, 2007 pada 1:40 am |
Bpk Budi Putra Yth,
sebelumnya mohon maaf, ini bukan comment, tapi minta info.
Perkenalkan saya Jupri, alumni fak sastra unand Bp98, sekarang sedang ngambil s2 Translation studies di ANU Canberra.
Saya bermaksud menjadi freelance translator dan dengan ini mau minta tolong dan Info mungkin Kakanda Budi punya link di bidang ini.
terima kasih sebelumnya.
Kang Kombor // Maret 6, 2007 pada 5:34 am |
Di Indonesia ini, orang pinter jadi goblog kalau sudah masuk kabinet. Orang yang demokrat jadi diktator kalau sudah masuk kabinet. Yang tadinya tukang ngritik, begitu masuk kabinet jadi antikritik.
Biasa deh… namanya Petruk dadi ratu… Lupa kacang pada kulitnya.
Pak SBY, tolong katakan Anda tidak suka Republik Mimpi « Tak mimpi jadi pemimpin // Maret 6, 2007 pada 6:06 am |
[...] terus Bung Effendi! Mosok keok sama ancaman somasi… Ealah… mimpi kok disomasi. No Comments Leave a Commenttrackback addressThere was an error with your comment, please try [...]
tukang ketik // Maret 9, 2007 pada 2:15 am |
“…film horor yang tak masuk akal…”
maap pak, filem pocong diutak-atik tuh…
regards
agung // Maret 9, 2007 pada 7:44 am |
faktanya masyarakat dan remaja sekarang lebih suka melihat hal2 yang menjual mimpi, ketimbang ngrusin carut-marut politik
Kampret Nyasar // Maret 29, 2007 pada 1:38 pm |
Namanya juga keblinger, jadi gajah didepan mata pun ndak kelihatan
Setali tiga uang-lah dengan kerabat mereka di sini…
dalamhati // Maret 30, 2007 pada 10:50 am |
biasa tuh!! setelah tersentil baru ribut..
jadi kesimpulannya: nama baik itu lebih penting daripada moral masyarakat keseluruhan!!
adit // April 7, 2007 pada 5:40 am |
loh itu kan terjadinya di negeri antah berantah, mestinya yg men-somasi itu adalah menteri yg dari negeri antah-berantah bukannya dari menteri negara indonesia yak
agri // April 17, 2007 pada 4:02 pm |
berkuasa koq takut dikritik.jika merasa benar kenapa harus takut dengan kritikan. ini bukan lagi zamannya aparatus ideologi ditegakkan.
flat27 // Mei 5, 2007 pada 5:05 am |
kita memang baru masih bisa mimpi
angga // Mei 8, 2007 pada 9:12 am |
iya toh mas, mosok mimpi kok disomasi? mendingan ditambah aja dosisnya biar tahu kalo dunia mimpi itu jauh lebih ideal dari kenyataan kalo yang ngorok emang udah habis jatahnya di dunia kita? kita ya, mas? lha kok? eh, somasi itu apaan ya, mas? teguran ya? atau dibangunin dari mimpi, ya?
wargabanten // Mei 9, 2007 pada 4:23 pm |
Mimpi Kok Disomasi? ->> lha ada yang aneh lagi E-mail saja dijual : http://wargabanten.wordpress.com/2007/05/04/anggota-dewan-jualan-e-mail/
noes // Mei 13, 2007 pada 12:02 pm |
sedih juga. mudah2an ini juga mimpi.
ario dipoyono // Mei 21, 2007 pada 5:38 am |
halah… gitu aja kok repot
saya // Mei 22, 2007 pada 6:12 pm |
sejak budi putra “jadi blogger full-time” blog ini jadi terbengkalai.
rd Limosin // Mei 23, 2007 pada 3:35 am |
Wei, jangan dong. tontonan fav tuh
Kelik // Juni 1, 2007 pada 7:46 am |
Mas Budi, APa kabar?
Blog anda ramai ya. Selamat deh.
Aku juga ikutan ngeblog nih.
Bisa numpang di blogroll anda ya.
Kelik M. Nugroho
Mami Nindhi // Juli 12, 2007 pada 12:41 pm |
Weh………, kalau ada orang ngimpi aja ngerasa perlu disomasi, apalagi kalau ngomong di alam nyata………., bisa-bisa dikantongin………wah nakutinnya ngelebihin film horor……………
icanxkecil // Juli 14, 2007 pada 11:03 am |
Weleh2 bapak ini g tau diri, kerjaan yang ada aja lom rampung malah kesannya g becus malah mo nambah kerjaan. Jadi menteri kok makin go blog aja.
teguhtimur // Juli 22, 2007 pada 4:30 am |
begitulah memang watak kekuasaan. sensitif…
salam kenal. kalau berkenan, kunjungi blog saya dan dilink di sini. trims..
annots // Juli 24, 2007 pada 8:21 am |
we alah, apa ini cuma aksi cari muka aja? soalnya waktu itu kan gencar2nya resufle kabinet to ya? Ya to?
lemyot // Agustus 1, 2007 pada 5:58 pm |
dasar maling-maling brepublik. Semuanya mau resisten terhadap kritik. Kapan majunya, Man!
iphan // Agustus 9, 2007 pada 7:45 pm |
nah…itu dia, ketauan kan alasannya… yang mau ngasih somasi ngerasa kesentil, gara-gara apa yg ada di republik mimpi itu nggak bisa direalisasikan di kehidupan nyata. republik mimpi itu menurut mereka mungkin seperti “inspirator pikiran kritis”
kayak gitu kok di somasi,,, ndak masuk akal…
dian // Agustus 22, 2007 pada 5:45 am |
oa…lah, mimpi ko’ disomasi. lah wong mimpi yang sebenarnya saja tidak ada adegan somasi ko’. lagian orang atasan itu mikirnya pake apa yah… mbo’ kalau waras-kan program itu bisa dijadikan pengereman diri setiap keputusan mereka. lah wong mobil ajah punya rem. ini… lagi remnya dapet gratis ko ditolak… pemerintah! pemerintah!
sayap // September 18, 2007 pada 3:25 am |
emang bener disomasi ya mas?
Qolyc // September 18, 2007 pada 5:58 am |
Alam mimpi `ko’ dibawa2 sampai alam politik, atau politik itu adanya ada di alam mimpi
munggur // September 30, 2007 pada 3:28 pm |
Dengan kata lain: kontrol media yang anti-pemerintah.
Kalau yang acara2 rusak, ya paling ga ditanggapi. soalnya ada hubungannya dengan pendapatan TV tersebut. yang mungkin berubah menjadi upeti untuk … siapa ya?
hasan // Nopember 26, 2007 pada 10:53 pm |
kalau g punya mimpi itu berarti uda mati…orang lg kreatyif napa di gituin??jadinya bisa jd malah digituin sebaliknya lohhh>>>>mimpipun indahloh
Wardani // Desember 29, 2007 pada 6:19 am |
Aku dukung Republic mimpi, Jadilah program yang mengusung keprihatinan masyarakat, karena kita juga masyarakat, Jadi yang tidak mau di kritik itu bukan MASYARAKAT alias bukan Warga INDONESIA yang dulu sewaktu SD katanya negara Zamrud di Khatulistiwa tapi sekarang tidak lebih negara yang compang-camping karena terlalu banyak pejabat yang menyelewengkan amanah RAKYAT, Maju terus untuk Republic MIMPI