Monthly Archives: Juni 2006

Workshop Photojournalism

Jika Anda tertarik Photojournalism, Panna Institute of Photography menawarkan sejumlah kelas workshop:

Kelas Reguler:
Basic ‘SLR’ Photography

* KELAS Sabtu & Minggu (Weekend Class)
* KELAS Selasa & Kamis (Weekdays Class)

Introduction to Photojournalism – Telling a Story in One Picture

* KELAS Sabtu & Minggu (Weekend Class)
* KELAS Selasa & Kamis (Weekdays Class)

Kelas Intensive:

01 – 02 Juli 2006

* KELAS A
“Basic ‘SLR’ Photography”
Pengajar: Rasdian A. Vadin
Biaya workshop: Rp. 350.000,-

01 – 02 Juli 2006

* KELAS B

“Introduction to Photojournalism – Telling a Story in One Picture”
Pengajar: Edy Purnomo
Biaya workshop: Rp. 500.000,-

Lengkapnya lihat situs Panna Institute of Photography

Teknik Penulisan Kolom (4)

TUNTUTAN BAGI SEORANG PENULIS KOLOM

Kenapa esai astronomi Stephen Hawking (“A Brief History of Time”), observasi antropologis Oscar Lewis (“Children of Sanchez”) dan skripsi Soe Hok Gie tentang Pemberontakan Madiun (“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”) bisa kita nikmati seperti sebuah novel? Kenapa tulisan manajemen Bondan Winarno (“Kiat”) dan artikel kedokteran-psikologi Faisal Baraas (“Beranda Kita”) bisa dinikmati seperti cerpen?

Hawking, Lewis, Hok Gie, Bondan dan Baraas adalah beberapa penulis “pakar” yang mampu mentrandensikan tema-tema spesifik menjadi bahan bacaan bagi khalayak yang lebih luas. Tak hanya mengadopsi teknik penulisan populer, mereka juga menerapkan teknik penulisan fiksi secara kreatif dalam esai-esai mereka.

Untuk mencapai ketrampilan penulis semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan sikap mental tertentu:

Keingintahuan dan Ketekunan:
Sebelum memikat keingintahuan pembaca, mereka harus terlebih dulu “memelihara” keingintahuannya sendiri akan sesuatu masalah. Mereka melakukan riset, membaca referensidi perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis. Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali. Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana mereka bisa membaginya kepada pembaca?

Kesediaan untuk berbagi:
Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas. Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang “rumit” dan sulit dibaca adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan.

Kepekaan dan Keterlibatan:
Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di pasar?
Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang “sastrawi” jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru).
Menulis catatan harian serta membuat sketsa dengan gambar tangan maupun tulisan seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam mengasah kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek kemanusiaan pada umumnya. Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

Kekayaan Bahan (resourcefulness):
Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis yang “berkacamata kuda”. Dia membaca dan melihat apasaja. Hanya dengan itu dia bisa membawa tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar musik (dari dangdut sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana.

Kemampuan Sang Pendongeng (storyteller):
Cara berkhotbah yang baik adalah tidak berkhotbah. Persuasi yang berhasil umumnya disampaikan tanpa pretensi menggurui. Pesan disampaikan melalui anekdot, alegori, metafora, narasi, dialog seperti layaknya dalam pertunjukan wayang kulit. (Farid Gaban)

Ikuti Pooling Buku Juli 2006

Klub Baca-baca kembali mengundang anda untuk berpartisipasi dalam 'Book Of The Month' Juli 2006.
Silahkan pilih salah satu dari empat buku di bawah ini, dan kirimkan pilihan anda melalui alamat reka.reka@yahoo.com.

Buku yang mendapat suara terbanyak akan menjadi buku pilihan untuk didiskusikan pada bulan Juli 2006 (terbuka untuk umum, keterangan tanggal, waktu dan tempat menyusul).

Pooling buku ini terbuka untuk umum. Kami tunggu pilihan anda hingga tgl 27 Juni 2006. Jangan sampai tidak memilih….karena partisipasi anda sangat berharga.Pilihan buku :

1. Kota-kota Imajiner
Penulis : Italo Calvino
Penerbit : Fresh Book

2. Memahami Dunia Lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim
Tentang Sosial Politik Globalisasi

Penulis : Franklin Foer
Penerbit : Marjin Kiri

3. Kiamat Sudah Lewat
Penulis: 20 Anak Aceh
Penerbit: KPG

4. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerbit: Mizan

Deskripsi singkat

1. Kota-kota Imajiner
Penulis : Italo Calvino
Penerbit : Fresh Book

Tiada kota lain yang lebih menikmati kehidupannya seperti Eusapia. Dan untuk mendekatkan jurang antara kehidupan dan kematian, para penduduk telah membangun tiruan identik kota mereka, di bawah tanah. Semua mayat, yang dikeringkan dengan cara tertentu sehingga tulang-belulangnya tetap terselubung kulit kuning, dibawa ke bawah sana, untuk meneruskan kegiatan-kegiatan mereka terdahulu.

Dan, dari kegiatan-kegiatan ini, momen-momen santai tanpa bebanlah yang menjadi kegiatan prioritas mereka: sebagian besar mayat itu didudukkan di sekeliling meja-meja penuh barang, atau ditempatkan dalam posisi berdansa, atau dibuat seolah sedang memainkan terompet-terompet kecil. Tetapi semua perniagaan dan pekerjaan kota hidup Eusapia juga berjalan di bawah sana, atau setidaknya mereka yang telah mati merasa lebih puas melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya orang-orang hidup: si pembuat jam, di antara semua jam rusak di tokonya, menempatkan telinganya yang menyerupai kertas kuno pada sebuah jam milik seorang kakek yang tak lagi berdetak; seorang tukang pangkas, dengan sikat rambutnya, membusai tulang pipi seorang aktor yang tengah mempelajari perannya, menyimak naskah dengan lubang-lubang matanya yang cekung; tengkorak seorang gadis yang sedang tersenyum memerah susu bangkai sapi muda. (hal 122, kota-kota & kematian – 3)

2. Memahami Dunia Lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim Tentang Sosial Politik Globalisasi
Penulis : Franklin Foer
Penerbit : Marjin Kiri

Apa kaitan sepak bola dengan pembantaian Muslim Bosnia? Dengan budaya korupsi di Dunia Ketiga? Dengan bangkitnya sentimen-sentimen rasial dan konflik keagamaan? Dengan Zionisme maupun anti-Semitisme? Ikutilah perjalanan jurnalis politik Franklin Foer menyusuri jagat internasional sepak bola, bertemu dengan orang pertama yang melahirkan aksi-aksi hooligan, berkumpul dengan intelektual bawah tanah Italia pendukung Inter Milan, mengamati bagaimana falsafah El Barca penting untuk memulihkan konsep nasionalisme inklusif maupun citra sepak bola itu sendiri, serta segudang penelusuran memukau lainnya yang wajib dibaca oleh setiap penggemar bola maupun pengamat isu-isu sosial-politik.

3. Kiamat Sudah Lewat
Penulis : 20 Anak Aceh
Penerbit : KPG

Aku sempat melihat ibu digulung ombak. Aku menjerit memanggil ibu, dan aku pun digulung ombak…Aku
tenggelam dan ketika muncul lagi aku tinggal sendiri, aku kembali melihat ibu melambaikan tangan padaku dan ibu terus dibawa air ke tengah laut. Aku mau menolong ibu tetapi tak sanggup, karena ibu jauh dariku. Akhirnya ibu hilang, tidak tampak lagi.

Ada 20 cerita yang ditulis oleh anak-anak yang mengalami tsunami. Mereka menceritakan pengalaman
mereka yang menyedihkan, menakutkan, penuh kepanikan dan kecemasan tapi juga penuh harapan akan keadaan yang lebih baik. Mereka adalah anak-anak yang tangguh, berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dan keluarga, juga orang-orang di sekitar mereka saat tsunami menghantam. Setelah tsunami berlalu, mereka menjadi anak-anak yang tabah, menjalani kegiatan seperti biasanya (sekolah), merintis kembali cita-cita yang mereka dambakan meskipun kehidupan sebagian besar dari mereka, tidak lagi selengkap dulu.

4. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerbit : Mizan

Dua orang saudara sepupu yang tinggal di kota yang berbeda memutuskan untuk tetap menjalin komunikasi. Mereka memilih sebuah buku sebagai media komunikasi, buku itu ditulis kejadian-kejadian yang mereka alami untuk kemudian saling dikirimkan. Dalam buku itu, ada
tali peristiwa yang menghubungkan mereka, dan mereka percaya bahwa ada sesuatu yang besar dan membahayakan yang akan terjadi dalam dunia perbukuan dan perpustakaan. Novel ini menceritakan petualangan, cerita detektif, misteri, diramu dengan berbagai teori tentang sastra, puisi, drama, film yang ujung-ujungnya adalah sebuah rencana besar untuk dunia perbukuan dan perpustakaan. Satu lagi novel ide yang unik dari penulis “Dunia Sophie” yang terkenal itu.

Teknik Penulisan Kolom (3)

PENULISAN KOLOM INDONESIA

'Creative non-fiction"  bukan "genre" yang sama sekali baru sebenarnya. Pada dasawarsa 1980-an dan awal 1990-an kita memiliki banyak penulis esai/kolom yang handal, mereka yang sukses mengembangkan “style” dan personalitas dalam tulisannya. Tulisan mereka dikangeni karena memiliki sudut pandang orisinal dan ditulis secara kreatif, populer serta “stylist”.Para penulis itu adalah: Mahbub Junaedi, Goenawan Mohamad, Umar Kayam, YB Mangunwijaya, MAW Brower, Syubah Asa, Dawam Rahardjo, Abdurrahman Wahid, Arief Budiman, Mochtar Pabottingi, Rosihan Anwar, dan Emha Ainun Nadjib.

Untuk menunjukkan keluasan tema, perlu juga disebut beberapa penulis esai/kolom lain yang menonjol pada era itu: Faisal Baraas (kedokteran-psikologi), Bondan Winarno (manajemen-bisnis), Sanento Juliman (seni-budaya), Ahmad Tohari (agama), serta Jalaluddin Rakhmat (media dan agama).
Bukan kebetulan jika sebagian besar penulis esai-esai yang menarik itu adalah juga sastrawan—penyair dan cerpenis/novelis. Dalam “creative non-fiction” batas antara fiksi dan non-fiksi memang cenderung kabur. Bahkan Bondan (ahli manajemen) dan Baraas (seorang dokter) memiliki kumpulan cerpen sendiri. Dawam juga sesekali menulis cerpen di koran.

Namun, pada dasawarsa 1990-an kita kian kehilangan penulis seperti itu. Kecuali Goenawan (“Catatan Pinggir”), Bondan (“Asal-Usul” di Kompas) dan Kayam (Sketsa di Harian “Kedaulatan Rakyat”), para penulis di era 1980-an  sudah berhenti menulis (Mahbub, Romo Mangun, Sanento dan Brower sudah almarhum).

Pada era 1990-an ini, kita memang menemukan banyak penulis esai baru—namun inilah era yang didominasi oleh penulis pakar ketimbang sastrawan. Faisal dan Chatib Basri (ekonomi), Reza Sihbudi, Smith Alhadar (luar negeri, dunia Islam), Wimar Witoelar (bisnis-poilik), Imam Prasodjo, Rizal dan Andi Malarangeng, Denny JA, Eep Saefulloh Fatah (politik) untuk menyebut beberapa. Namun, tanpa mengecilkan substansi isinya, banyak tulisan mereka umumnya “terlalu serius” dan kering. Eep barangkali adalah salah satu pengecualian; tak lain karena dia juga sesekali menulis cerpen.

Sementara itu, kita juga melihat kian jarang para sastrawan muda sekarang menulis esai, apalagi esai yang kreatif. Arswendo Atmowiloto, Ayu Utami dan Seno Gumiro Adjidarma adalah pengecualian.

Padahal, sekali lagi, mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius (panjang dan melelahkan), tantangan kreatifitas para penulis esai lebih besar lagi. (Farid Gaban)

Kelompok Islam Demo Kompas

Aksi protes terhadap media kembali terjadi. Kali ini yang jadi sasaran adalah kantor Kompas, Jalan Palmerah Selatan. Pemrotes mempersoalkan Kompas terlalu memojokkan kelompok tertentu.

Demonstrasi sendiri berlangsung damai dan tidak terjadi tindak kekerasan. Apakah ini terkait dengan masalah perimbangan berita? Kompas sendiri menanggani protes itu dengan baik.

JAKARTA — Sekitar 300 orang yang tergabung dalam Gabungan Antisekularisme dan Anti-Kompas (GASAK) unjuk rasa di kantor redaksi Kompas, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta kemarin.

Mereka menuntut agar Kompas tidak menurunkan berita-berita yang memojokkan umat Islam. Pemberitaan yang dinilainya memojokkan itu mengenai Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi. "Kompas berpihak kepada mereka yang menolak RUU APP," kata Fadloli El Muhir, Ketua Forum Betawi Rempug, setelah bertemu dengan Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo.

Sekitar pukul 11.00, perwakilan demonstran diterima Pemimpin Redaksi Kompas dan beberapa staf redaksi. Dalam pertemuan itu, GASAK menyampaikan somasi antara lain mengingatkan Kompas untuk kembali pada kesepakatan antara Kompas dan Tim Pembela Islam, 29 September 1997.

Isi kesepakatan itu, antara lain, Kompas tidak akan memuat berita-berita yang memojokkan umat Islam. "Kami memberi waktu 7 hari untuk menanggapi tuntutan ini," kata Fadloli. Hadir dalam pertemuan itu adalah Ahmad Sumargono dari Komite Solidaritas Islam dan kuasa hukum Tim Pembela Islam, Lutfi Hakim.

Menanggapi somasi itu, Suryopratomo mengatakan Kompas sebagai perusahaan media selalu terbuka terhadap segala macam masukan dari masyarakat.

"Pers itu tugasnya menangkap berita secara benar terhadap sebuah kejadian agar menjadi pengetahuan pertama. Kami tidak membuat berita, tapi kami menyampaikan berita," katanya.

Mengenai pemberitaan RUU APP, kata Suryopratomo, itu persoalan persepsi. Menurut dia, segala hal yang kurang berimbang akan menjadi koreksi bagi redaksi. Ditanyai soal tuntutan 7 hari dari GASAK, Suryopratomo mengatakan, "Secepatnya saya akan memberikan penjelasan."

GASAK terdiri atas 80 organisasi massa, antara lain Front Pembela Islam, Forum Betawi Rempug, Dakwah Islam, Majelis Ulama Indonesia, dan Tim Pembela Islam. Mereka menggelar unjuk rasa mulai pukul 10.30 hingga 12.30. MARULI FERDINAND

Link

Teknik Penulisan Kolom (2)

KOLOM: “ESSAY WITH STYLE”

Berbeda dengan menulis untuk jurnal ilmiah, menulis untuk koran atau majalah adalah menulis untuk hampir “semua orang”. Tulisan harus lebih renyah, mudah dikunyah, ringkas, dan menghibur (jika perlu), tanpa kehilangan kedalaman—tanpa terjatuh menjadi tulisan murahan.

Bagaimana itu bisa dilakukan? Kreatifitas. Dalam era kebebasan seperti sekarang, seorang penulis dituntut memiliki kreatifitas lebih tinggi untuk memikat pembaca. Pembaca memiliki demikian banyak pilihan bacaan. Lebih dari itu, sebuah tulisan di koran dan majalah tak hanya bersaing dengan tulisan lain di koran/majalah lain, tapi juga dengan berbagai kesibukan yang menyita waktu pembaca: pekerjaan di kantor, menonton televisi, mendengar musik di radio, mengasuh anak dan sebagainya.

Mengingat “reputasi” esai sebagai bacaan serius, panjang dan melelahkan, tantangan para penulis esai lebih besar lagi. Dari situlah kenapa belakangan ini muncul “genre” baru dalam esai, yakni “creative non-fiction”, atau non-fiksi yang ditulis secara kreatif.

Dalam “creative non-fiction”, penulis esai mengadopsi teknik penulisan fiksi (dialog, narasi, anekdot, klimaks dan anti klimaks, serta ironi) ke dalam non-fiksi. Berbeda dengan penulisan esai yang kering dan berlagak obyektif, “creative non-fiction” juga memungkinkan penulis lebih menonjolkan subyektifitas serta keterlibatan terhadap tema yang ditulisnya. Karena memberi kemungkinan subyektifitas lebih banyak, esai seperti itu juga umumnya menawarkan kekhasan gaya (“style”) serta personalitas si penulis.

Di samping kreatif, kekuatan tulisan esai di koran atau majalah adalah pada keringkasannya. Tulisan itu umumnya pendek (satu halaman majalah, atau dua kolom koran), sehingga bisa ditelan sekali lahap (sekali baca tanpa interupsi).

(Thanks, mas Farid Gaban!)

Teknik Penulisan Kolom (1)

Kolom: “Esai dengan Gaya”

Oleh Farid Gaban, Pena Syndicate

PENGANTAR

Dalam dunia sastra, esai dimasukkan dalam kategori non-fiksi, untuk membedakannya dengan puisi, cerpen, novel dan drama yang dikategorikan sebagai fiksi.

Membuka halaman-halaman koran atau majalah, kita akan menemukan banyak esai atau opini. Tulisan-tulisan itu punya karakteristik sebagai berikut:

  • OPINI: mewakili opini si penulis tentang sesuatu hal atau peristiwa.
  • SUBYEKTIFITAS: memiliki lebih banyak unsur subyektifitas, bahkan jika tulisan itu dimaksudkan sebagai analisis maupun pengamatan yang “obyektif”.
  • PERSUASIF: memiliki lebih banyak unsur imbauan si penulis ketimbang sekadar paparan “apa adanya”. Dia dimaksudkan untuk mempengaruhi pembaca agar mengadopsi sikap dan pemikiran penulis, atau bahkan bertindak sesuai yang diharapkan penulis.

Meskipun banyak, sayang sekali, tulisan-tulisan itu jarang dibaca. Dalam berbagai survai media, rubrik opini dan editorial (OP-ED) umumnya adalah rubrik yang paling sedikit pembacanya. Ada beberapa alasan:

  • SERIUS dan PANJANG: orang mengganggap tulisan rubrik opini terlampau serius dan berat. Para penulis sendiri juga sering terjebak pada pandangan keliru bahwa makin sulit tulisan dibaca (makin teknis, makin panjang dan makin banyak jargon, khususnya jargon bahasa Inggris) makin tinggi nilainya, bahkan makin bergengsi. Keliru! Tulisan seperti itu takkan dibaca orang banyak.
  • KERING: banyak tulisan dalam rubrik opini cenderung kering, tidak “berjiwa”, karena penulis lagi-lagi punya pandangan keliru bahwa tulisan analisis haruslah bersifat dingin: obyektif, berjarak, anti-humor dan tanpa bumbu.
  • MENGGURUI: banyak tulisan opini terlalu menggurui (berpidato, berceramah, berkhotbah), sepertinya penulis adalah dewa yang paling tahu.
  • SEMPIT: tema spesifik umumnya ditulis oleh penulis yang ahli dalam bidangnya (mungkin seorang doktor dalam bidang yang bersangkutan). Tapi, seberapa pun pintarnya, seringkali para penulis ahli ini terlalu asik dengan bidangnya, terlalu banyak menggunakan istilah teknis, sehingga tidak mampu menarik pembaca lebih luas untuk menikmatinya.