Terbit, Playboy Edisi Kedua

playboy2.jpg
Majalah Playboy edisi Indonesia baru saja menerbitkan edisi keduanya menyusul kontroversi penerbitan edisi perdana majalah dengan sistem waralaba itu.

Kini majalah untuk kaum pria itu berkantor di Kuta, Bali, lantaran keberadaaannya di Jakarta menjadi sasaran protes sekelompok orang dan sempat tak terbit.

Tampilan foto-foto model di edisi kedua ini dilaporkan lebih sopan.

Namun tidak seperti yang dijanjikan semula oleh penerbitnya bahwa majalah ini hanya bisa didapatkan di tempat terbatas, tetapi tetap bisa dibeli dari pengecer di jalanan.
Foto: AP

2 responses to “Terbit, Playboy Edisi Kedua

  1. Bagi saya, Playboy edisi kedua semakin mencoreng citra kesopanan dan kearifan budaya universal yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Memang negara ini menghormati kebebasan pers dan menghargai penerbitan industri media, tapi kebebasan pers seperti apa yang di maksud? bukankah negara ini menjunjung tinggi norma dan etika? Seandainya begitu, kalau saya boleh berspekulasi, keleluasaan redaksi Playboy menerbitkan edisi kedua berarti sudah di koridor norma dan etika, dong? Bukan, playboy terang-terangan mengumbar demoralisasi dan menabrak etika.

    Penerbitan majalah porno ala Indonesia merupakan gerbang menuju pembodohan publik apalagi kalau majalah kontroversial ini disalahgunakan dan menjadi santapan kawula muda di bawah umur. Apabila tidak ditangkis, saya mengkhawatirkan masa depan bangsa suatu saat nanti akan dinakhodai generasi bermoral dangkal. Selain itu, Saya cukup yakin, majalah Playboy merupakan penetrasi budaya asing dan hati-hatilah terhadap dugaan upaya penyeragaman budaya.

    Terakhir, ada benarnya kata guru saya, Bapak Taufik Ismail, kira-kira begini “langit akhlakku roboh di atas negeriku terkoyak-koyak, hukum tak tegak doyong berderak-derak” .
    Selamat Datang Playboy edisi kedua, Selamat Datang Babak kedua pembodohan bangsa. Wassalam

  2. ya begitulah kalo manusia udh ngeklaim dirinya tuhan. Seenaknya manusia jaman sekarang bikin aturan moral.benar-salah, baik-buruk, hina-mulia, diukur dr apa yg gue pingin &/ yg masyarakat pingin. kita jd mirip binatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s