Kelompok Islam Demo Kompas

Aksi protes terhadap media kembali terjadi. Kali ini yang jadi sasaran adalah kantor Kompas, Jalan Palmerah Selatan. Pemrotes mempersoalkan Kompas terlalu memojokkan kelompok tertentu.

Demonstrasi sendiri berlangsung damai dan tidak terjadi tindak kekerasan. Apakah ini terkait dengan masalah perimbangan berita? Kompas sendiri menanggani protes itu dengan baik.

JAKARTA — Sekitar 300 orang yang tergabung dalam Gabungan Antisekularisme dan Anti-Kompas (GASAK) unjuk rasa di kantor redaksi Kompas, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta kemarin.

Mereka menuntut agar Kompas tidak menurunkan berita-berita yang memojokkan umat Islam. Pemberitaan yang dinilainya memojokkan itu mengenai Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi. "Kompas berpihak kepada mereka yang menolak RUU APP," kata Fadloli El Muhir, Ketua Forum Betawi Rempug, setelah bertemu dengan Pemimpin Redaksi Kompas Suryopratomo.

Sekitar pukul 11.00, perwakilan demonstran diterima Pemimpin Redaksi Kompas dan beberapa staf redaksi. Dalam pertemuan itu, GASAK menyampaikan somasi antara lain mengingatkan Kompas untuk kembali pada kesepakatan antara Kompas dan Tim Pembela Islam, 29 September 1997.

Isi kesepakatan itu, antara lain, Kompas tidak akan memuat berita-berita yang memojokkan umat Islam. "Kami memberi waktu 7 hari untuk menanggapi tuntutan ini," kata Fadloli. Hadir dalam pertemuan itu adalah Ahmad Sumargono dari Komite Solidaritas Islam dan kuasa hukum Tim Pembela Islam, Lutfi Hakim.

Menanggapi somasi itu, Suryopratomo mengatakan Kompas sebagai perusahaan media selalu terbuka terhadap segala macam masukan dari masyarakat.

"Pers itu tugasnya menangkap berita secara benar terhadap sebuah kejadian agar menjadi pengetahuan pertama. Kami tidak membuat berita, tapi kami menyampaikan berita," katanya.

Mengenai pemberitaan RUU APP, kata Suryopratomo, itu persoalan persepsi. Menurut dia, segala hal yang kurang berimbang akan menjadi koreksi bagi redaksi. Ditanyai soal tuntutan 7 hari dari GASAK, Suryopratomo mengatakan, "Secepatnya saya akan memberikan penjelasan."

GASAK terdiri atas 80 organisasi massa, antara lain Front Pembela Islam, Forum Betawi Rempug, Dakwah Islam, Majelis Ulama Indonesia, dan Tim Pembela Islam. Mereka menggelar unjuk rasa mulai pukul 10.30 hingga 12.30. MARULI FERDINAND

Link

13 responses to “Kelompok Islam Demo Kompas

  1. Dasar gasak, memang suka mencari gara-gara saja.

    Tapi, kalau dari pengamatan sepintas lalu saya, secara kuantitas Kompas lebih banyak memuat berita penolakan terhadap RUU APP itu. Mungkin saja kebijakan redaksi menolak RUU itu. Kalau memang betul, cara Kompas cukup elegan.

    Saya kira Kompas memang harus memainkan peran ini, karena sudah ada media semacam Republika, yang secara ideologi jelas membela umat muslim.

    Bukankah dalam hal ini tidak ada mana yang benar dan mana yang salah. Apakah pendukung RUU APP itu yang benar, atau penolak itu yang lebih benar. Tapi mana yang perlu dibela. Dan saya melihat, kelompok penolak itu perlu dibela, melihat suara pendukung sudah lebih lantang. Hal ini agar ada diskusi yang berimbang, sehingga demokratisasi masyakat bisa berjalan.

    Menurut saya sih begitu bung. Sori kalau asal cuap-cuap. Salam dari Semarang.

  2. setiap media bisa salah dan harus dikoreksi.
    tapi sejauh saya tangkap, kompas cukup berhati-hati dalam pemberitaannya agar tak dilekati stigma “antiislam”.
    sudut pandang kompas — terlepas dari sependapat atau tidak —
    terhadap kontroversi ruu-ap pun matang dan argumentatif.

    jika setiap sikap kritis terhadap ruu-ap, dan perda sejenis produk tangerang, harus dihadapi dengan sikap keras, bagaimana kita, eh gasak, harus menyikapi opini kortem yang sampai menyebut perda itu seperti menganggap setiap wanita yang berada di jalan pada malam hari adalah (maaf) “lonte”?

    saya tak menutup mata terhadap konteks, bahwa meskipun yang dinyanyikan adalah sama-sama lagu burung kakak tua, tapi tafsir terhadap sejarah si penyanyi juga menentukan penilaian.

    yang saya heran, dalam kontroversi ruu-ap ini tumbuh pelencengan persoalan, yaitu pihak yang menentang ruu-ap boleh dianggap pro-pornografi. sebuah penyederhanaan (untuk menggalang opini) yang mestinya juga perlu kita luruskan.

  3. sekali lagi ini adalah salah satu bentuk pemaksaan pendapat, apakah masalah umat islam hanya sebatas pornografi atau itu hanya masalah2x sederhana spt itu yg dapat dikaji oleh pemuka agamanya ?

  4. Ada beberapa kebijakan kuno yang masih berlaku sampai saat ini, dan saya yakin kebenarannya :
    1. Ucapan terkenal :
    “or evil to succeed, good men must keep silent”
    Maka siapapun, termasuk “Kompas” maupun “Gasak” wajib bersuara bilamana merasa dirinya benar.
    Bravo Kompas, anda telah menjadi Kompas hidup saya sejak 1965, sewaktu koran semacam “Harian Rakyat” dll menjadi raja.
    2. “su gedhe menang kerahe”
    Peribahasa nenek moyangku ini memang benar, binatang yang lebih besar dan lebih banyak mestinya akan menang (kalau di dalam rimba).
    Nah, kita ini manusia, apa mau menang2an? Lebih keras menyalahk, lebih galak, lebih berani nggerudug, bahkan lebih banyak modalnya, apa mau menang2an??
    Pelajaran dari Hitlet, Pol Pot, Idi Amin dll apa tetap mau kita ulangi terus?
    3. What is in a name ?
    Wah, nama mencerminkan perilaku kita lho.
    Yang namanya Kompas ya berusaha menjadi Kompas penunjuk jalan dan pedoman hidup.
    Apa iya, yang namanya Slamet berusaha tidak selamet, dan Budi maunya tidak berbudi.
    Lha kok pilih nama Gasak? Mengapa sih tidak pilih nama Pencinta Damai saja? Maaf kalau salah ngomong.

  5. KOMPAS itu bacaan bermutu dan menyajikan berita ang juga bermutu sehingga sayang sekali kalau karena kepentingan agama Islam KOMPAS disomasi. Kalau tidak mau baca yang sudah biar tetep goblok sana. Kalau mata dibutakan oleh fanatisme agama yang cenderung ngajarin ajaran-ajaran anarkis itu, jalannya yang nabrak-nabrak kayak gini. Sayang sekali orang Islam kok nunjukkin otot melulu dan bukannya otak? Jadinya merusakkan citra umat Islam sendiri yang banyak diantaranya kaum cendekiawan. Untungnya masih banyak umat Islam yang pikirannya terbuka dan sadar akankeberbedaan dalam kehidupan bermasyarakat serta menerima warna-warni kehidupan sebagai kekayaan. Kalau semua orang di-Islamkan, butalah seluruh dunia. Heh, dulu aku gak kayak gini sama umat Islam tapi gara-gara terlalu banyak aksi anarkis mengatasnamakan agama ini, kesal juga! Mau apa sih orang-orang goblok itu?

  6. Kompas akhirnya kena batunya. Mereka yang suka menonjolkan kalimat Demokrasi ternyata mereka juga yang kejeblos. Demokrasi ala Barat memang tidak pernah adil. Yang mengemuka melulu kata-kata arogan yang disemburkan dari mulut penguasa media yang membebek arogansi politik Barat yang sekular kapitalistik. Ketika aliran lain yang tidak sehaluan muncul, langsung saja ide-ide dan gagasannya dibendung. Lihat saja, Kompas sudah jadi media corong Barat seperti CNN, BBC, VOA yang selalu menstigmatisasi kelompok Islam walaupun aspirasinya tentang nilai-nilai kebaikan yang universil bagi semua orang. Apa agama yang mendukung kebaikan hanya Islam?Ini tanda tanya besar bagi saya yang lahir di negara Pancasila yang katanya sila pertamanya “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

  7. Saya pikir, demo ke KOMPAS adalah sesuatu yang wajar dlam keangka DE
    emokrasi . Catatanya adalah: tidak anarkhis dan main ancam-ancam. Dalam dunia “pemikiran” perbedaan pendapat adalah sah. Bermain dalam wacana religiutas KOMPAS cukup berhati-hati. Penolakan terhadap wacana KOMPAS karena memang sudah ada stigma sebelumnya. Padahal soal RUU APP sekali lagi jauh dari soal agama–walaupun agama adalah batasan pengaturan moral. RUU APP adalah menyangkut kebernegaraan, dan KOMPAS cukup cerdas menterjemahkan soal itu. Tapi soal beda pendapat dan kritikan kepada KOMPAS sebaiknya ditanggapi positif saja, tidak perlu membalas kembali dengan curiga…

  8. Assalamualaikum

    1. Kalo saya boleh usul, memohon kepada Bapak Budi untuk ganti judulnya pak menjadi “Sebagian Kelompok Islam” mungkin bapak sebagai Jurnalis lebih tau dari pada saya yang awam dengan jurnalis
    2. Gasak kebetulan sebagian kelompok Umat Muslim, yang penyampaian protesnya seperti itu, tapi belum tentu semua umat muslim seperti itu.
    Umat beragama pun tidak agama A agama B pasti mempunyai kelompok 2x yang berbeda beda, mohon disikapi dengan hati nurani sesuai dengan kapasitasnya, pun ada tujuan dibalik semua penyampaian pemberitaannya, lakukan dengan batas batas yang sudah ditetapkan baik sebagai profesional di bidang jurnalisme (aturan buatan manusia yang masih banyak celah kesalahannya) maupun sebagai Umat berTuhan (yang mempunyai aturan yang mutlak benar)

    3. Menyikapi “betul kali”

    Kalau mata dibutakan oleh fanatisme agama yang cenderung ngajarin ajaran-ajaran anarkis itu, jalannya yang nabrak-nabrak kayak gini

    apa tidak lebih bijak kalau menyampaikan sesuatu atas dasar pemikiran yang diyakini itu adalah benar dengan segala bukti berikut “pemahaman” terhadap bukti itu.

    Akhir kata: Sesuatu yang luarbiasa akan tumbuh dari segala perbedaan yang disikapi dengan sebuah kata yaitu “saling” dalam artian yang positive.

    Wassalam Wr.Wb

  9. SUsahnya hidup di dalam masyarakat yang pendidikannya rendah dan emosional. kurang rasio malah emosi yang dotonjolkan, bisa2 yang salah dibilang benar dan yang benar malah di bilang salah. Dasarm Zaman Edan, Wong Edan tambah Akeh Wae, kapan Kiamat Rek!

  10. cresya martha siregar

    syalom…

    pemberitaan kompas mengenai ruu app yang cenderung lebih menonjolkan sisi dari mereka yang menolak ruu tsbt adalah salah satu bukti keragaman pendapat yang harus terus kita syukuri, tetapi akan lebih bijak jika kompas memperhatikan keberimbangan dalam pemberitaannya, sehingga pembaca tidak hanya sekedar membaca tetapi juga mendapat pengajaran dari berita yang dibacanya.pembaca secara bebas dapat menentukan mana yang baik dan mana yang tidak sesuai dengan akal pikiran dan nuraninya.
    saya pikir polemik dalam ruu app hanyalah masalah perbedaan persepsi yang seharusnya diluruskan oleh kompas, berikan sosialisasi ruu tersebut melalui pemberitaan media anda.
    secara pribadi, sebagai seorang perempuan yang hidup dalam kasih dan kepercayaan kepada gereja, saya sangat mendukung uu app tersebut, kita sebagai umat kristiani sudah saatnya membuka mata terhadap masalah ini, mari kita berikan dukungan bagi perjuangan ruu ini menjadi uu nantinya, karena saya melihat umat kristiani tampaknya diam seribu bahasa, solah-olah ajaran kesopanan dan etika gereja telah hilang dalam nurani kita, mari kita bersama-sama memberikan dukungan, ini bukan persoalan agama ini atau itu, tetapi persoalan kita sebagai manusia untuk mendapatkan kehidupan tenteram dan damai dalam kasihNya.

  11. Bisakah kita diam sejanak terhadap apaun tindakan FPI?
    Bisakah kita beri mereka waktu untuk bersuara?
    Mari BERSAMA-SAMA (Yang kontra FPI) mendengarkan, dan memahami apa yang sebenarnya mereka mau.
    Dan, Setelah mereka selaesai bicara, barulah tiba saatnya buat kita untuk…

    MENGHAJAR MEREKA!!!!!
    ORANG-ORANG ANARKIS, BUTUH TINDAKAN NYATA, SEPERTI APA YANG MEREKA LAKUKAN UNTUK MEMBUAT MEREKA TAU.
    SOALNYA, MEREKA CUMA TAHU, JALAN ITULAH YANG TERBAIK.

    Indonesia Memang ber-Bhineka Tunggal Ika.
    Tapi lebih cinta kemerdekaan.
    Biarlah, kita yang merasa terjajah oleh FPI, merebut kembali kemerdekaan itu.
    Jaya Indonesiaku.

  12. hmm, yang komentar kurang sopan kok biasanya tidak meninggalkan url,
    heran aku…😛

    lihat ke sini, mungkin pendapat anda berubah…

    http://ruuappri.blogsome.com/

    blog yang bagus sekali, menunjukkan bahwa ruu app memang perlu.

  13. Muhammad Taufik Harahap PW IRM SUMUT

    analisa memang surat kabar yang bearmutu tapi kenapa belakangan ini banyak media yang mulai menyudutkan komunitas tertentuz???
    saya tidak bisa menyalahkan analisa yang membuat berita tentang islam kerana itu adalah hak sebuah media tapi kalau saya boleh punya usul kalau analisa membuat berita tolong agak diseleksi biar tidak mebuat emosi halayak ramai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s