Kiat Menulis dalam Bahasa Inggris (2)

Kemampuan menulis adalah satu hal dan bagaimana menulisnya dalam Bahasa Inggris adalah hal lain lagi. Mungkin ada baiknya menyimak pengalaman dan kiat Andreas Harsono, satu dari sedikit dari penulis Indonesia yang jago menulis dalam Bahasa Inggris. Terimakasih buat Bung Andreas atas izin pemuatan artikel ini untuk Blog Jurnalisme.
*

Belajarlah mula-mula dengan piramida terbalik. Lalu feature dan analisis. Lalu narasi.

Sebagai kolumnis, saya melatih diri berargumentasi, mencoba menyakinkan orang yang tak setuju dengan saya, agar mengerti isu yang saya kemukakan. Setidaknya, mereka setuju dengan metode analisisnya. Saya banyak belajar bagaimana menulis opini dari situs web Pulitzer Prize. Di situ banyak contoh. Saya menggunakan kata-kata sederhana saja. Kalau kesulitan, saya mencari kamus atau menelepon teman yang native speaker.

Ketika dapat beasiswa dan belajar di Universitas Harvard, barulah saya mengerti ada struktur yang lebih rumit lagi: NARASI.

Kerennya, disebut “jurnalisme sastrawi.” Anda menyebutnya “penulisan kreatif.” Saya lebih suka nama “narasi” tapi nama “jurnalisme sastrawi” lebih populer. Padahal salah kaprah sering muncul. Dikiranya, ini penulisan fakta yang mendayu-dayu dan puitis.

Bill Kovach, guru saya di Harvard, mendorong saya belajar narasi. Kovach juga mententir harus baca buku apa? Tiap minggu ia cek. Sudah selesai? Kalau sudah, ia beri judul lagi. Black Hawk Down. Philadelphia Aurora. The New York Times. CBS. The New Yorker, Scotty Reston, Harold Ross, David Halberstam dan sebagainya.

Pulang dari Boston, menulis untuk media internasional secara freelance, sambil menyunting majalah Pantau. Inilah periode ketika saya benar-benar belajar dan berlatih bersama rekan-rekan Pantau lainnya: Agus Sopian, Agus Sudibyo, Alfian Hamzah, Budiman S. Hartojo, Budi Setiyono, Chik Rini, Coen Husain Pontoh, Eriyanto, Hamid Basyaib, Helena Rea, Heru Widhi Handayani, Indarwati Aminuddin, Irawan Saptono, Ni Luh Sekar, Linda Christanty, Max Wangkar, Sirikit Syah, Veven Sp. Wardhana dan masih banyak lainnya (sorry rek nek ono sing lali).

Sambil menulis dalam Bahasa Indonesia, saya juga membandingkannya dengan bahasa Inggris. Saya sendiri nggak punya bahasa ibu yang official. Saya lahir di Jember, satu kota tembakau di Jawa Timur. Nama pemberian orang tua saya, “Ong Tjie Liang,” tapi oleh rezim Orde Baru, kami dipaksa ganti jadi nama “Indonesia.” Nama “Ong Tjie Liang” dianggap “bukan Indonesia,” dianggap belum membaur. Papa orang Hokkian. Mama orang Hakka. Di jalanan, kami memanggil satu dengan lainnya dengan “lu” dan “gua.” Tapi nenek kecil orang Jawa asal Tuntang, Malang. Saya memanggilnya “kima.”

Jadi saya besar dengan budaya campuran. Besar dengan Man Tuka yang Madura. Mbek Wie yang Madura. Pak Tie yang Jawa. Masa kecil yang menggembirakan. Omong Madura, Jawa, Melayu, Hokkian.

Enak. Gado-gado. Kamsia. Kulo nuwun. Sampeyan. Kebacut. Selangkong. Dan (maaf) Diancuk.

(Kata terakhir itu difamilierken lagi ke kuping saya oleh Alfian Hamzah dalam “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan.” Alfian sendiri belajar dari anggota-anggota Batalyon Infanteri 521/Dadaha Yodha Kediri yang bertugas di Aceh Barat pada 2002).

Ketika kecil, juga ada bahasa Indonesia ala TVRI dan RRI –yang rasanya keriting di kuping tapi mereka bilang inilah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketika duduk di bangku SMPK Maria Fatimah Jember, belajar bahasa Inggris dengan Pak Hur, guru bahasa Inggris di sana. Saya paling muda sekelas.

Ketika masuk SMAK St. Albertus Malang, ambil kursus bahasa Inggris privat, di rumah seorang dosen IKIP Malang. Bahkan sudah lupa namanya. Tante itu baik sekali. Lalu sempat les bahasa Jerman di satu pusat kursus di Malang. Juga lupa namanya. Cuma ingat, “Ich liebe dich.” Tapi punya temen-temen yang hebat, yang mengajar saya untuk belajar apa saja untuk maju. Pastor kepala sekolah kami, Pater E. Siswanto, juga orang liberal yang berpikir terbuka. Hidupnya penuh tragedi tapi ia mendidik kami dengan terbuka. Keluarganya mati dibunuh perampok.

Masuk kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, daerah pekat Jawa-Mataram, yang makanannya terasa berlebihan manis untuk lidah Jember saya. Logat Jawatimuran dianggap kasar. Apalagi omong kata, “Diancuk.” Padahal di Malang dan Jember, “diancuk” adalah bumbu omongan perkoncoan. Nggak apa-apa. Belajar Kromo Inggil untuk pergaulan. Orang Cina, to be politically correct, orang Tionghoa, disana juga alus-alus Kromo Inggil.

Di Salatiga, juga kerja sebagai aktivis grassroot (ceile!) dengan para sais dokar. Tiap hari ada di terminal dokar Margosari. Orang-orang Jawa tapi “ngoko.” Komboran. Jaran. Suket. Maka mulailah saya dikenal sebagai “Mas Andreas” oleh Pak Achmadi, Mas Sukardi, Mas Slamet, Bu Endang, Mas Wagimin dan sebagainya. Lalu sempat mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak mereka, dan dipanggil, “Oom Andreas.”

Lulus kuliah, saya bekerja di Phonm Penh. Bicara bahasa Inggris tapi sempat ambil kursus bahasa Khmer, sehingga bisa bilang, “Cum riep sak sabai?” Artinya, “How are you?” atau “Are you okay?” Lalu tukang masak di rumah indekost, sering mengajar kalimat, “Rom Khmer Grohom.” Artinya, “Crush the Khmer Rouge.” Serem. Hi. Orang Khmer masih trauma dengan “Killing Fields” ala Khmer Rouge. Bahkan koki di rumah tak suka dengan Khmer Grohom.

Saya belajar dengan sering switching bahasa. Logika, sering bolak-balik antara logika Melayu, Madura, Jawa dan Inggris. Kalau berhitung dalam hati, saya menggunakan Mandarin, “Ik, ol, san, tse, u, liok ….” Suka sekali main-main dengan kosakata. Adam Ellick, rekan dari Fulbright yang kebetulan sering main ke Pantau, mengatakan pemakaian kata Melayu dalam karya bahasa Inggris saya, membuatnya jadi kenal kalau ini karya saya. Suatu saat, Adam ketemu suatu karya soal bajak laut di Batam. Ia merasa akrab dengan gaya itu. Tapi tak ada byline. Ia menduga karya saya. Ternyata benar.

Saya cinta dengan bahasa-bahasa. Goenawan Mohamad, mentor saya di Institut Studi Arus Informasi, mengatakan saya punya bakat di bidang bahasa. Saya tak tahu. Saya hanya tahu imajinasi bahasa melampaui khayalan saya sendiri. Kita tak pernah tahu batas dari kata-kata kita sendiri. Terkadang satu pokok pikiran saya tuangkan dalam dua bahasa dengan khayalan atas dua audiens yang berbeda. Menulis khan soal khayalan tentang audiens bukan?

Jadi bagaimana resepnya? Belajarlah. Mulai sekarang juga. Seraplah sebanyak mungkin bahasa. Bukan hanya bahasa Indonesia. Tapi semuanya. Ia akan memperkaya nalar dan komparasi berbahasa Anda. Ia akan membuat jarak bahasa jadi sempit, bahkan mesra. Grammar hanya soal logika. Belajarlah mula-mula dengan piramida terbalik. Lalu feature dan analisis. Lalu narasi.

Mudah-mudahan cerita ini membantu Anda. Mohon maaf, ini bukan jawaban seorang guru bahasa Inggris. Tapi seorang wartawan. Terima kasih dan selamat belajar.

31 responses to “Kiat Menulis dalam Bahasa Inggris (2)

  1. Oom Budi, kalau ada kontak direct ke Pak Andreas, tolong bilang dong sama beliau… adain course, please…

  2. Lia yang terhormat,

    Terima kasih untuk usulnya. Saya sempat bicara dengan Max Lane, warga Australia yang menterjemahkan tetralogi Pulau Buru dari Pramoedya Ananta Toer, untuk mengaja menulis dalam bahasa Inggris di Yayasan Pantau.

    Kendalanya banyak sekali ya. Uang salah satunya. Max orang baik dan hidup sederhana tapi sebagai expat dia butuh pemasukan agak besar bila harus kerja di Jakarta. Dia harus bayar pajak ke negara Indonesia dan sebagainya.

    Kemampuan grammar rasanya sih oke. Tapi perlu seleksi awal agar penguasaan grammar kurang lebih sama. Waktu juga tidak bisa selesai seminggu dua. Minimal empat bulan dengan frekuensi seminggu sekali atau dua.

    Menurut Anda bagaimana kalau macam begitu?

  3. Mas Andreas yang baik,

    Jelas, saya tambah tertarik🙂
    Saya yakin banyak yang ingin ikut.

  4. Saya juga mau ikutan course bareng Lia! Kalau harus dites grammar supaya trainingnya lebih efisien, nggak apa2. Nanti saya belajar benar2 deh. Janji!

    Saya pernah menghub. Yayasan Pantau utk training penulisan dalam Bahasa Inggris, tetapi waktu itu katanya khusus untuk jurnalis saja. Saya memang bukan jurnalis, tapi masa cuma jurnalis saja sih yang boleh belajar nulis Inggris?😦

  5. Irma,

    Kami di Yayasan Pantau dulu memang fokus kepada wartawan saja. Tapi sejak tahun ini sudah berubah. Kami membuka peluang kepada siapa pun untuk ikut kursus kami. Disainnya memang dibuat berbeda.

    Kalau meminjam istilah Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, kursus-kursus ini dirancang untuk “praktisi jurnalisme” –orang yang tidak bekerja sebagai wartawan profesional namun memakai prinsip-prinsip jurnalisme dalam menulis, membuat film atau membuat siaran radio.

    Makin hari makin banyak praktisi jurnalisme. Kami juga menyesuaikan diri.

    Selama dua minggu ini, saya bicara dengan Richel Dursin, seorang wartawan Filipina di Jakarta, tentang kemungkinan di mengajar menulis dalam bahasa Inggris. Richel prinsipnya mau tapi baru bisa bulan Oktober.

    Minggu ini saya juga akan bicara dengan Peter Britton dari Australian Volunteers International, tentang kemungkinan memberikan sponsor kepada Max Lane, penterjemah Buru Quartet dari Pramoedya Ananta Toer, untuk membantu mengajar di Yayasan Pantau.

    Hambatan buat kursus beginian adalah honor pengajarnya. Mereka expatriate sehingga kebutuhan hidupnya juga lebih besar dari orang macam saya. Maklum, mereka punya dua rumah dan membayar pajak ekstra kepada pemerintah Indonesia.

    Kami tak bisa men-charge para peserta terlalu tinggi. Kami mengusahakan subsidi. Saya akan kirim kabar di mailing list bila ada kabar positif. Terima kasih.

  6. Aih senangnya🙂

    Semoga benar-benar bisa terwujud ya Mas Andreas.
    Mas Budi jangan lupa untuk mempublikasikannya di sini juga jika ada perkembangan ya😉

    Thanks Mas Andreas.

  7. Pak Budi & Pak Andreas,
    Gimana nih kabar trainingnya?🙂
    Sama dengan Lia, saya harap bisa terwujud.

    Makasih…

  8. Wah bakalan menarik nih– kalau Bung Andreas membuka lebar belajar menulis berbahas Inggris.
    Boleh ikutan ama lia dong…

  9. saya juga dihubungi yah..kali aja bisa join…

  10. saya juga mau ikutan kursus. karena saya memang pengen jadi penulis sih. makanya sekarang lagi cari-cari tempat buat belajar yang banyak. kalau ada, tolong saya dihubungi ya. thanks b4.

  11. Wah, mas budi (andreas), kapan nih training nulis inggris-nya? Saya nunggu info-nya, pengin join juga.

  12. Saya ingin sekali bisa komunikasi dalam bahasa inggris, selalu ikut dalam millis belajar bahasa, tapi hingga saat ini belum bisa juga. Apa mungkin kata-kata ini benar ya, bahwa belajar di usia 40 seperti belajar berjalan diatas air alias berenang?????

  13. wah, saya juga mau dunk, saya ini Englishnya lemah banget, kl ngeles.. bosenin… kasih tahu ya.. pengen join.. Pengen nulis inggrisnya nih🙂

  14. Wah, saya juga mau ikut!!! Pak Budi dan Pak Andreas, saya udah telat belum?

  15. saya dari dulu gak suka dengan bahasa inggris. Tapi sekarang saat memasuki dunia kerja saya wajib mahir bahasa ini. saya sudah kursus diberbagai tempat kursus, tetap saja tidak bisa, selalu tengah perjalanan berhenti kursus jenuh! Bwat rekan yang mahir dan hobi dengan bahasa ini bagaimana ya? tolong bantu saya, pasalnya saya harus fasih berbahasa inggris jika saya mau dinas keluar negeri.

  16. Pak Guru, saya harus sampaikan minat ini tetapi saya tak mampu bayar kursus yang terlalu mahal. bagaimana nich Pak Guru ?

    Saya merasa bahagia bila ditolak dengan informasi alasan. tetapi mohon info biaya mungkin saya akan fight mencari pinjaman untuk belajar. Saya bersungguh-sungguh.

  17. Bang gimana cara belajar bahasa Inggris (menulis dan speaking) yang baik dan benar. Aku dah belajar namun ga ngerti-ngerti. Kalau bisa bantu aku agar dapat homestay gratisan di luar negeri, bang. Oh ya aku dah berumur di atas 40 tahunan, kira-kira bisa ga aku dapat gratisan homestay di luar negeri. Tolong aku ya bang.

  18. Hai…hola….aku fitri. AKu br baca bukunya Mas Andreas tentang Jurnalisme sastrawi tu dan nyatanya aku cukup tertarik akrena aku pernah kefikiran untuk nulis tentang kisah hidup seseorang….
    Oh ya…aku juga baru gabung dengan sebuah surat kabar lokal di pangkal pinang jadi semua ketertarikanku akan dunia jurnalis dimulai disini….
    So…senang rasanya kalo aku bisa gabung dengan komunitas ini
    Thanks….

  19. syalom.. hai semua… boleh minta tolong kan..

    lina minta tolong.. tips belajar bahasa inggris..

    soalnya aku orang nya payah neh..

    susah ngertinya..

    pengen tau sih.. tapi itulah….

    tolong yah.. di bikinin

    Thx duluan…!!!!

  20. saya dari dulu suka dengar berita bahasa inggris, tapi perbendaharaan katanya kok susah nambahya kalo ngomong, pie cara ne? how?

  21. saya juga tertarik untuk ikut kursus menulis terutama untuk menulis dalam bahasa inggris…seperti yang diusulkan teman2… Berharap sekali bisa terwujud…
    saya sangat menunggu informasinya…. Salam..

  22. i study inggris,but meles baca. tapi now, i will

  23. share ilmu lewat tulisan (dlm bentuk pdf misalnya) tentang tips n trik menulis in ENGlish bisa diperbanyak lg ngga? thanks

  24. Hallo Mas Andreas…..Saya Tari, dan juga pingin sekali bisa nulis dlm bahasa Inggris.

    Beberapa artikel sy pernah di muat di The Jakarta Post dan sekarang jd English News Writer disalah satu TV swasta nasional.

    Proses pembelajaran menulis sy hanya coba2 dan pake feeling, jd kalo ditanya bgmn cara menulis sy bingung juga…..Dan saya merasa sampe saat ini koq ya masih ngambang…..Jadi, sy tetap merasa harus belajar nulis bahasa Inggris. (Hehehe…lucu ya….padahal profesi saya udah english news writer ya…..).

    Nah,. boleh kan jadi rekan diskusi saya? Ini YM ID saya : kuntarini_rahsilawati@yahoo.com. Ditunggu ya……

  25. Oh ya, saya gak pny blog wordpress, jd sy gak bisa memantau jawaban Mas Andreas. Pls ya kontak2……ditunggu ya…

  26. iya saya juga perlu mahir bahsa inggris. barangkali ada alat bantu supaya bisa belajar sendiri dengan menggunakan sebuag software atau sejenisnya. mohon bantuannya

  27. Clear tenan rek!😀

  28. saya juga ingin belajar improve bahasa inggris.

  29. Bahasa Inggris……… wah nggak terbayang kalau aku bisa mahir, atau pahit-pahitnya sekedar conversation.
    Tolong dong, kiatnya gimana biar aku juga bisa merambah alam maya ini dengan leluasa

  30. Bahasa Inggris……… wah nggak terbayang kalau aku bisa mahir, atau pahit-pahitnya sekedar conversation.
    Tolong dong, kiatnya gimana biar aku juga bisa merambah alam maya ini dengan leluasa

    Almudazir
    Harian Tribun Pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s