Kursus Menulis Bahasa Inggris

Andreas Harsono menulis tentang gagasan menyelenggarakan kursus menulis Bahasa Inggris di blognya. Postingnya ini juga merupakan salah satu respon dari postingnya tentang kiat menulis Bahasa Inggris di blog Jurnalisme beberapa waktu lalu.

Beberapa bulan belakangan ini, saya menerima beberapa e-mail atau posting via blog saya, tentang keinginan para pengirim surat tersebut agar Yayasan Pantau bikin kursus menulis esai atau feature dalam Bahasa Inggris.

Budi Putra misalnya, redaktur teknologi Koran Tempo, minta menaruh sebuah esai saya soal bagaimana menulis dalam bahasa Inggris ke situs blog miliknya www.jurnalisme.wordpress.com. Saya tentu senang sekali. Dia sendiri ingin lancar menulis dalam bahasa internasional ini.

Budi juga mengajak saya bertemu di Plasa Senayan. Kami mengobrol dan ia cerita banyak soal beberapa buku karyanya. Tapi rasanya belum afdol kalau belum dalam bahasa Inggris?

Saya anjurkan dia menulis untuk The Jakarta Post. Ia suka dengan ide itu. Ini ajang latihan menulis yang efektif. Di sana ada editor yang bisa memberikan feedback dan memperbaiki karyanya.

Minggu lalu, saya lihat byline miliknya muncul di harian ini. Saya ikut senang.

Tapi tak semua orang bisa menulis untuk The Jakarta Post bukan?

“Lia” misalnya usul agar Pantau bikin kursus tersebut. Saya bilang pada Lia bahwa kursus beginian ada beberapa hambatan: sedikitnya tenaga pengajar, proses seleksi untuk mengetahui tata bahasa dan biaya relatif mahal.

Saya sempat menyebut nama Max Lane, kolumnis dari Sidney yang dulu menterjemahkan karya Tetralogi Pulau Buru dari Pramoedya Ananta Toer. Max menikah dengan seorang aktivis perempuan Jakarta. Max bersedia mengajar menulis dalam bahasa Inggris dan tinggal di Jakarta agar dekat dengan isterinya.

Tapi Max khan harus bayar pajak sebagai expatriate? Dia harus dapat izin ini dan itu dari dinas-dinas yang berserakan di Jakarta ini. Semua butuh duit. Biaya hidup ganda –kredit rumah di Sidney dan kontrakan di Jakarta– tentu juga lebih mahal.

Max sebenarnya orang sederhana, hemat dan murah. Tapi hidup sebagai expat cukup repot di negeri ini. Beda dengan Bangkok atau Singapura. Max adalah aktivis damai. Dulu pernah kerja di Kedutaan Australia di Jakarta namun dikeluarkan karena menterjemahkan karya-karya Pramoedya.

Pantau sering bikin kursus dengan biaya antara Rp 2 – 3 juta per paket (12-14 kali pertemuan). Itu sudah cukup mahal. Padahal pengajarnya orang Jakarta (Agus Sopian, Ayu Utami, Budi Setiyono dan sebagainya) atau kalau expatriate (antara lain Janet Steele) ada subsidi entah dari Ford Foundation atau Fulbright Scholarship.

Belum lagi seleksi untuk menyamakan pemahaman soal tata bahasa. Kita toh sulit bila pesertanya kurang rata mengerti English grammar.

Kalau grammar kurang solid, maka kursusnya juga tak bisa hanya 12-14 kali pertemuan. Mungkin harus lebih banyak lagi. Saya ingat dulu ibunya Norman, mantan isteri saya, Retno Wardani, mengambil kursus bahasa Inggris di Harvard Extension School hingga dua semester: seminggu tiga kali.

Belum lagi pengayaan bacaan. Menulis bukan sekedar mencoretkan kata-kata. Standar kolom dalam Bahasa Inggris, karena persaingan internasional, juga lebih rigid daripada kolom Bahasa Indonesia. Tulisan bermutu pasti ada isinya bukan? Budi Putra sudah membuktikan bahwa ia relatif mudah menembus The Jakarta Post karena ia menguasai isu teknologi. Ada isinya.

Anyway, Lia usul bagaimana bila saya menayangkan isu ini ke forum yang lebih besar. Seberapa penting sih untuk kita bisa menulis dalam bahasa Inggris? Seberapa banyak wartawan kita yang ingin sekali bisa bekerja untuk media internasional? Bagaimana dengan minat praktisi jurnalisme (orang non wartawan yang sering menulis untuk media)?

Seberapa perlu bagi praktisi jurnalisme untuk bisa mengirim feature atau kolom dalam bahasa Inggris? Organisasi mana yang bersedia memberikan subsidi agar expat macam Max Lane bisa mengajar di Jakarta?

Kami ingin sekali mendapatkan masukan ini dari Anda. Kalau Anda ingin ikut tukar pikiran, silahkan dikirim ke email saya atau isi comment disini. Kami akan menjadikannya sebagai bahan pertimbangan internal di Yayasan Pantau.

Kalau memang minat besar, saya percaya selalu ada jalan keluar. Terima kasih.

17 responses to “Kursus Menulis Bahasa Inggris

  1. Hi

    salam kenal Bud,

    aku iwan dari jakarta post..just to give a comment on your blog. an interesting one.

    Request: I’ll add your blog to my blogroll

    Salam

    Iwan
    http://jakartaku.wordpress.com
    http://mochkurniawan.wordpress.com

  2. Thanks, Iwan.

    Saya juga sudah masukkan blogmu ke daftar Bloggers di Blog Jurnalisme

  3. HALLO MR BUDI,

    PLEASE SAY HI TO HANNI (HANDRIANI).
    THANKS A LOT!

    NANDO

  4. Saya ingin belajar menulis baik menggunakan bahasa Indonesia maupun Inggris. Saat ini saya sedang tidak memiliki pekerjaan tetap.

    Norik

  5. Saya ingin pandai menulis bhs inggris,anda bisa membantukah?

  6. Bolehkah saya kirim beberapa tulisan saya, dan mohon anda untuk mengkoreksinya?

  7. hi bud, blog nya bagus

    walau mahal ide menulis dalam bahasa inggris penting sekalai, saya yang bukan wartawan aja merasa sangat memerlukan kemampuan bahasa inggris itu.

    sukses bud, salam untuk Utiah

  8. salam dari Reli
    Saya tinggal di Jember kebetulan saya juga suka bahasa Inggris.
    tulisan saya pernah dimuat di the Jakarta Post.
    saat ini saya masih kuliah di UNEJ. kendalanya saya kurang media langsung untuk bisa belajar lebih dalam tentang bahasa Inggris.
    Jika ada saran saya tunggu, send to my email relly_pepy@yahoo.com
    tm. kasih

  9. Salam kenal..

    Saya ingin belajar menulis dalam Bahasa Inggris yang baik dan benar, tolong dibantu ya Pak Budi.

    Trimakasih.

  10. SAYA BARU bergabung dengan dunia jurnalistik n tulis menulis ini. so,mohon di bantu…

  11. setuju, saya juga ingin sekali bisa menulis artikel dalam bahasa inggris.. tapi tidak mengerti harus belajar dimana. trims

  12. nulis bhs indo aja dah gelagapan, pa lagi bhs inggris???di LPM lumayan aktif, tapi tiap kali nulis, selalu gini komen-ny; bagus…tapi perlu di tingkatkan” . kul di jurusan pend. bhs ingg jg sepertinya diajar nulis ala anak Sd. ” Inni ibu Budi” hii…hi… jadi ngeri sendiri… ceppe deee

  13. salam kenal untuk kawan-kawan semua…

  14. Menjadi seorang penulis adalah pekerjaan impian saya setelah berkeluarga nanti. Sekarang saya sedang belajar cara2 menulis skenario, bantuin donk?! Thanks ya atas bantuannya

  15. yuk kita belajar grammar dulu.

  16. met siang!

    bisa tolong kasih taw ga,, kalo kita misal pengen nulis bwat the jakarta post sebagai praktisi jurnalis apa aja syarat nya trus kira2 topik yang berisi n mudah diterima sama the jakarta post ini apa ya kira2—???

    makasih sebelumnya.

  17. Dengan hormat,

    Salam kenal Pak Budi. Nama saya, Jenney. Saya dapat menemukan blog Bapak melalui search engine google. Kata-kata yang saya ketik di kotak search engine google adalah : kursus menulis bahasa inggris (tentunya dengan huruf kecil semua) dan di urutan pertama adalah blog Bapak. Setelah saya membaca blog Bapak, niat Bapak bagus sekali. Saya sendiri memiliki niat untuk belajar menulis essay dalam bahasa Inggris sehingga saat ini saya mencari tempat kursus untuk itu. Namun, tentunya dengan tujuan yang berbeda. Komunitas Bapak adalah di bidang jurnalisme. Bagi saya, hanya untuk menyalurkan rasa senang saya dalam menulis. Apalagi untuk tujuan akademik. Menulis dalam bahasa Inggris karena bahasa itu telah menjadi bahasa dunia dan kita adalah bagian dari dunia. Menyenangkan sekali jika kita dapat menulis dengan baik dalam bahasa dunia itu, hasil tulisan kita dapat dibaca juga oleh masyarakat dunia. Mungkin sudah menjadi takdir kalau bahasa Inggris yang menjadi bahasa dunia. Andaikan takdir menentukan bahasa Svahili sebagai bahasa dunia atau bahasa China (bangsa ini ada di berbagai belahan dunia, namun tidak menjadi bahasa dunia) atau bahasa Indonesia, maka seyogyanyalah kita mempelajari bahasa tersebut. Saya berharap dapat menemukan guru yang baik untuk itu.

    Salam,
    Jenney

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s