About

Weblog ini adalah media pendukung untuk milis Jurnalisme Publik (http://groups.yahoo.com/group/jurnalismepublik/). Bagi yang belum bergabung dengan milis yang dimoderatori ini, silahkan mendaftar diri.

Weblog (maupun milis) Jurnalisme Publik ini terbuka bagi wartawan, reporter, penulis, redaktur, editor, penerbit, peneliti, broadcaster, PR, mahasiswa, pengamat, pemerhati, peminat, aktivis maupun penggiat pers kampus. Forum berbagi informasi dan berdiskusi soal isu-isu dan keprihatinan publik — sesuatu yang menjadi concern jurnalisme publik atau jurnalistik publik (citizen journalism, participatory journalism) dan jurnalisme sipil (civic journalism).

Kalau Anda punya tulisan, tips atau agenda acara terkait jurnalisme, kirimkan email Anda ke boedipoetra [at] yahoo.com.

Selamat berdiskusi dan berbagi pengalaman.

Editor

12 responses to “About

  1. Dengan hormat Pak Budi Putra.
    tanpa basa basi lagi dikarenakan jumlah kata yg terbatas untuk kolom pesan ini.
    Saya ingin perkenalkan diri dulu
    nama willy sekolah hanya lulusan SMU,umur 25 thn,pekerjaan pengganguran…domisili jawa barat hoby maen komputer,,kegiatan sekarang lagi menggeluti web design pribadi.

    pertanyaan dan pernyataan saya
    saya ingin menjadi wartawan lepas untuk memperoleh berita yg bisa saya ketik dan saya gunakan sebagai bahan untuk website pribadi saya.tapi saya sudah bosan dengan copy paste dari website laen semacam kompas,detik.com,dll.mengapa bosan,karena kepuasan saya untuk website pribadi saya sangat tidak puas.masa sih hanya copy paste terus..tentu saja copy paste tersebut saya selalu ijin dengan pemilik berita atau web.lewat email atau telp atau hanya mencantumkan link sumber berita atau nama penulis.
    yang saya inginkan sekarang,saya ingin semua bahan untuk website saya adalah murni hasil karya saya.
    Tapi…… bagaimana bisa,saya kan bukan wartawan…
    pertanyaan saya.apakah saya bisa menjadi wartawan dengan backround seperti saya diatas?apakah wartawan lepas itu?dan bagaimana menjadi wartawan lepas?bisa kah saya meliput berita tanpa status,misalkan…. ada kejadian dan saya harus mencari berita tersebut lewat nara sumber…saya harus mewawancarai nara sumber example Pak SBY.klo saya bukan wartawan kan ga bs donk saya mewawancarai beliau.gmn tuh?
    apakah Pak Budi punya solusi laen??
    untuk kata2 terakhir.maaf kalau saya mengirim pesan ini.
    salam
    willy

  2. Assalamualaikum Wr Wb.
    Mantap bang.
    Akan saya ikuti perkembangan diskusi di sini agar dapat menambah wawasan. Apalagi koran di Padang dipandang menjengkelkan. Saya yang berkecimpung di sini lebih parah lagi risaunya. Bukan saja monoton tetapi lebih dari itu.
    Saya pikir, persoalan di ranahminang ini tiada lain adalah pergerakan ekonomi tidak benar-benar hidup. Angka pertumbuhan di 5,5 persen tidak pernah akan membawa masyarakat untuk menambah pendapatan mereka. Pemprov Sumbar belum mampu menggenjot pertumbuhan hingga 6.5 atau 7 persen. Semua dana belanja daerah ini tertumpang pada APBD semata. Paruh Januari hingga Juni, kalau belum ketuk palu, ekonomi benar-benar berjalan seret. Sektor swasta—makro—yang menunggu keajaiban dari kebijakan pemerintah hanya bisa berharap agar APBD bisa kucur dan berimbas pada mereka. Kita di media mendorong investasi—Rp4 T jika mau menggenjot sampai 6 atau 7 persen pertumbuhan— tetapi lagi-lagi selalu saja sebatas MoU dan formalitas dari pejabat yang terjadi alias investasi yang menyerap tenaga kerja, produksi dan transportasi terjadi permintaan hanyalah mimpi sepi yang menepi di tepi hari. Dan ya, media sebagai kebutuhan ke sekian dari hidup orang-orang ranahminang menjadi makin terpuruk. Apa yang terjadi? Wartawan dan lembaganya lagi-lagi harus mengharap belas kasihan pemerintah juga. Dibeli lewat APBD. Rekruitmen wartawan berdasar siapa yang siap digaji kecil, bukan pada kualitas standar.
    Begitulah jadinya kalau negeri ini diurus dengan buta urus. Terus terang, saya merasakan apa yang dikatakan Abang Budi, karena beberapa waktu lalu saya sempat diskusi di Carano Room, kita sepakat menyatakan bahwa perkembangan media di ranahminang belum menunjukkan kualitas yang bernas.
    Ke depan agaknya butuh lahirnya kesadaran dan wartawan muda yang bisa mengomandoi sesuatu yang baru untuk profesi ini. Thanks atas ruang yang diberikan untuk berpendapat.
    Salam Hangat dari Ranahminang

    Abdullah Khusairi
    AJI Padang No 2006PDG01349

  3. belum lama berselang dua tulisan saya di blog di muat di salah satu majalah. Apakah ada hukum yang melindungi tulisan di blog? terimakasih pak Budi

  4. salam kenal Mr. B!
    saya tidak sengaja membuka website Anda karena saya sedang mencari informasi cara penulisan skenario cerita. Saya merasa punya bakat menulis tapi tidak punya waktu untuk menuangkannya dalam kertas. Tapi… akhir akhir ini keinginan untuk menulis muncul kembali. Alasannya….sinetron-sinetron di Indonesia ceritanya garing, menyedihkan, jiplakan, de..es..be.. (ide cerita saya lebih baik deh kayaknya!) Saya ingin MEMULAI MENULIS!! Tolong beri saya saran.. mana yang lebih baik? menulis novel atau naskah skenario? (sekalian tipsnya ya!) Latar belakang saya bukan dari jurnalistik tapi saya sangat..sangat… menyukai membaca. Please balas…tengkyu Mister!

  5. Salam kenal mas Budi Putra,
    Langsung saja, saya ricky, saat ini sedang kuliah di Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

    Saat ini saya cukup bingung dengan kinerja Redaktur di media cetak, mulai dari fungsinya, cara mereka bekerja, bagaimana hubungan dia dengan reporter dan posisinya di sebuah media cetak.

    Sebenarnya kebingungan saya ini muncul ketika saya menyusun sebuah proposal Kerja Praktek di sebuah harian lokal, dengan tema Kinerja Redaktur Foto Dalam mendukung sebuah berita. Memang fokus saya redaktur Foto, tapi dosen meminta saya untuk melihat kinerja redaktur secara umum terlebih dahulu baru menyempit ke Redaktur Foto.

    Misalnya ada referensi buku mengenai kinerja Redaktur, tolong beritahu saya.

    Terima kasih mas,

    Salam

  6. Saya mahasiswa jurusan non-jurnalistik. Sejak duduk di bangku menengah, saya tertarik pada masalah sosial-politik dalam dan luar negeri. Saya melihat wartawan sebagai sebuah profesi yang dapat memberikan kenikmatan lahir dan batin. Pertama, selain menyampaikan kebenaran, saya pun merasa dalam bidang ini, dapat mengoptimalkan hobi saya di dunia tulis-menulis. Selain itu, profesi ini-lah yang dirasa bersinggungan langsung dengan realitas yang terjadi di masyarakat kita saat ini. Dapatkah seseorang yang tidak memiliki latar belakang kuliah jurusan jurnalistik dan komunikasi menekuni bidang ini ? Bagaimana dengan orang yang berkeinginan menjadi wartawan, namun memiliki sifat relatif pendiam ? Sampai sejauh mana ia harus mengubah sifat tersebut ? Bagaimana tips masuk dalam dunia profesi kewartawanan dan survive di sana ? Terima kasih

  7. Salam kenal aja…
    Sepertinya saya hobi juga nulis-nulis..
    Kritik tentang Koran Padang, mirip dengan kritk bang Naldi dulu (sekarang di Kompas). Hallo da Naldi, ini teman sekamar dulu…
    kalo sempat mampir dong ke http://herianto.wordpress.com

  8. Selamat! Saya pernah lihat postingan di milis soal the first full time blogger. Saya sendiri baru-baru ini saja nge-blog, padahal saya dulu pernah kuliah IT. Maklum, gak ngerasa perlu soalnya dulu kan blogger diisi orang2 narcist yg cuma journal/diary doang isinya. Tapi sekarang banyak blog yg edukatif. Makanya sy paksa ngeblog. Btw, sy juga pengen bebas makanya gak kerja sama orang lagi (lagi nyoba jadi usahawan gitu lhoh). Anda bisa lihat blog saya di http://www.bhayu.wordpress.com. Sejujurnya saya ingin ketemu langsung utk tukar pikiran. Oh ya, bisa link-back kan? Pasti saya taruh link ke blog Anda di blog saya. See ya & sukses ya !

  9. Daya beli orang Sumbar terhadap koran rendah? Sampai sekarang saya tetap tidak percaya. Tapi anehnya, kalimat itu sellau dilontarkan kemana-mana. Di Sumbar, minat baca tinggi, sementara minat beli kurang.
    Saya tidak tahu, apa tolok ukur yang diambil untuk melahirkan statemen itu. Atau mungkin luapan ketakutan penguasa media di Sumbar akan masuknya koran-koran baru yang bakal menjadi kompetitornya. Karena mereka ‘mungkin’ sudah terlanjur bermesraan dengan para pejabat dan pengusaha, meski mengabaikan hak publik memperoleh informasi.
    Nah, yang terakhir inilah yang menyebabkan pangsa eceran koran di Sumbar selalu lesu. Jelas tidak mungkin orang mau membeli koran, bila tidak ada ‘keuntungan’ yang diperolehnya. Ini yang perlu kita diskusikan, sehingga diskhursus minat beli orang Sumbar terhadap koran rendah, bisa tersolusi dengan baik.

    salam
    Almudazir
    Pekanbaru

  10. Salam kenal mas Budi, saya ‘akch’, bukan nama sebenarnya. URL-nya saya link ke wordpress saya ya. Terimakasih.

  11. reference yang bagus untuk jurnalistik, bagi yang senang dunia tulis -menulis. salam dari Bali, keep on blogging!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s