Category Archives: Discussion

Teknik Penulisan Kolom (4)

TUNTUTAN BAGI SEORANG PENULIS KOLOM

Kenapa esai astronomi Stephen Hawking (“A Brief History of Time”), observasi antropologis Oscar Lewis (“Children of Sanchez”) dan skripsi Soe Hok Gie tentang Pemberontakan Madiun (“Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan”) bisa kita nikmati seperti sebuah novel? Kenapa tulisan manajemen Bondan Winarno (“Kiat”) dan artikel kedokteran-psikologi Faisal Baraas (“Beranda Kita”) bisa dinikmati seperti cerpen?

Hawking, Lewis, Hok Gie, Bondan dan Baraas adalah beberapa penulis “pakar” yang mampu mentrandensikan tema-tema spesifik menjadi bahan bacaan bagi khalayak yang lebih luas. Tak hanya mengadopsi teknik penulisan populer, mereka juga menerapkan teknik penulisan fiksi secara kreatif dalam esai-esai mereka.

Untuk mencapai ketrampilan penulis semacam itu diperlukan sejumlah prasyarat dan sikap mental tertentu:

Keingintahuan dan Ketekunan:
Sebelum memikat keingintahuan pembaca, mereka harus terlebih dulu “memelihara” keingintahuannya sendiri akan sesuatu masalah. Mereka melakukan riset, membaca referensidi perpustakaan, mengamati di lapangan bahkan jika perlu melakukan eksperimen di laboratorium untuk bisa benar-benar menguasai tema yang akan mereka tulis. Mereka tak puas hanya mengetahui hal-hal di permukaan, mereka tekun menggali. Sebab, jika mereka tidak benar-benar paham tentang tema yang ditulis, bagaimana mereka bisa membaginya kepada pembaca?

Kesediaan untuk berbagi:
Mereka tak puas hanya menulis untuk kalangan sendiri yang terbatas atau hanya untuk pembaca tertentu saja. Mereka akan sesedikit mungkin memakai istilah teknis atau jargon yang khas pada bidangnya; mereka menggantikannnya dengan anekdot, narasi, metafora yang bersifat lebih universal sehingga tulisannya bisa dinikmati khalayak lebih luas. Mereka tidak percaya bahwa tulisan yang “rumit” dan sulit dibaca adalah tulisan yang lebih bergengsi. Mereka cenderung memanfaatkan struktur tulisan sederhana, seringkas mungkin, untuk memudahkan pembaca menelan tulisan.

Kepekaan dan Keterlibatan:
Bagaimana bisa menulis masalah kemiskinan jika Anda tak pernah bergaul lebih intens dengan kehidupan gelandangan, pengamen jalanan, nelayan dan penjual sayur di pasar?
Seorang Soe Hok Gie mungkin takkan bisa menulis skripsi yang “sastrawi” jika dia bukan seorang pendaki gunung yang akrab dengan alam dan suka merenungkan berbagai kejadian (dia meninggal di Gunung Semeru).
Menulis catatan harian serta membuat sketsa dengan gambar tangan maupun tulisan seraya kita bergaul dengan alam dan lingkungan sosial yang beragam mengasah kepekaan kita. Kepekaan terhadap ironi, terhadap tragedi, humor dan berbagai aspek kemanusiaan pada umumnya. Sastra (novel dan cerpen) kita baca bukan karena susunan katanya yang indah melainkan karena dia mengusung nilai-nilai kemanusiaan.

Kekayaan Bahan (resourcefulness):
Meski meminati bidang yang spesifik, penulis esai yang piawai umumnya bukan penulis yang “berkacamata kuda”. Dia membaca dan melihat apasaja. Hanya dengan itu dia bisa membawa tema tulisannya kepada pembaca yang lebih luas. Dia membaca apa saja (dari komik sampai filsafat), menonton film (dari India sampai Hollywood), mendengar musik (dari dangdut sampai klasik). Dia bukan orang yang tahu semua hal, tapi dia tak sulit harus mencari bahan yang diperlukannya: di perpustakaan mana, di buku apa, di situs internet mana.

Kemampuan Sang Pendongeng (storyteller):
Cara berkhotbah yang baik adalah tidak berkhotbah. Persuasi yang berhasil umumnya disampaikan tanpa pretensi menggurui. Pesan disampaikan melalui anekdot, alegori, metafora, narasi, dialog seperti layaknya dalam pertunjukan wayang kulit. (Farid Gaban)

Iklan

Ikuti Pooling Buku Juli 2006

Klub Baca-baca kembali mengundang anda untuk berpartisipasi dalam 'Book Of The Month' Juli 2006.
Silahkan pilih salah satu dari empat buku di bawah ini, dan kirimkan pilihan anda melalui alamat reka.reka@yahoo.com.

Buku yang mendapat suara terbanyak akan menjadi buku pilihan untuk didiskusikan pada bulan Juli 2006 (terbuka untuk umum, keterangan tanggal, waktu dan tempat menyusul).

Pooling buku ini terbuka untuk umum. Kami tunggu pilihan anda hingga tgl 27 Juni 2006. Jangan sampai tidak memilih….karena partisipasi anda sangat berharga.Pilihan buku :

1. Kota-kota Imajiner
Penulis : Italo Calvino
Penerbit : Fresh Book

2. Memahami Dunia Lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim
Tentang Sosial Politik Globalisasi

Penulis : Franklin Foer
Penerbit : Marjin Kiri

3. Kiamat Sudah Lewat
Penulis: 20 Anak Aceh
Penerbit: KPG

4. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerbit: Mizan

Deskripsi singkat

1. Kota-kota Imajiner
Penulis : Italo Calvino
Penerbit : Fresh Book

Tiada kota lain yang lebih menikmati kehidupannya seperti Eusapia. Dan untuk mendekatkan jurang antara kehidupan dan kematian, para penduduk telah membangun tiruan identik kota mereka, di bawah tanah. Semua mayat, yang dikeringkan dengan cara tertentu sehingga tulang-belulangnya tetap terselubung kulit kuning, dibawa ke bawah sana, untuk meneruskan kegiatan-kegiatan mereka terdahulu.

Dan, dari kegiatan-kegiatan ini, momen-momen santai tanpa bebanlah yang menjadi kegiatan prioritas mereka: sebagian besar mayat itu didudukkan di sekeliling meja-meja penuh barang, atau ditempatkan dalam posisi berdansa, atau dibuat seolah sedang memainkan terompet-terompet kecil. Tetapi semua perniagaan dan pekerjaan kota hidup Eusapia juga berjalan di bawah sana, atau setidaknya mereka yang telah mati merasa lebih puas melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya orang-orang hidup: si pembuat jam, di antara semua jam rusak di tokonya, menempatkan telinganya yang menyerupai kertas kuno pada sebuah jam milik seorang kakek yang tak lagi berdetak; seorang tukang pangkas, dengan sikat rambutnya, membusai tulang pipi seorang aktor yang tengah mempelajari perannya, menyimak naskah dengan lubang-lubang matanya yang cekung; tengkorak seorang gadis yang sedang tersenyum memerah susu bangkai sapi muda. (hal 122, kota-kota & kematian – 3)

2. Memahami Dunia Lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim Tentang Sosial Politik Globalisasi
Penulis : Franklin Foer
Penerbit : Marjin Kiri

Apa kaitan sepak bola dengan pembantaian Muslim Bosnia? Dengan budaya korupsi di Dunia Ketiga? Dengan bangkitnya sentimen-sentimen rasial dan konflik keagamaan? Dengan Zionisme maupun anti-Semitisme? Ikutilah perjalanan jurnalis politik Franklin Foer menyusuri jagat internasional sepak bola, bertemu dengan orang pertama yang melahirkan aksi-aksi hooligan, berkumpul dengan intelektual bawah tanah Italia pendukung Inter Milan, mengamati bagaimana falsafah El Barca penting untuk memulihkan konsep nasionalisme inklusif maupun citra sepak bola itu sendiri, serta segudang penelusuran memukau lainnya yang wajib dibaca oleh setiap penggemar bola maupun pengamat isu-isu sosial-politik.

3. Kiamat Sudah Lewat
Penulis : 20 Anak Aceh
Penerbit : KPG

Aku sempat melihat ibu digulung ombak. Aku menjerit memanggil ibu, dan aku pun digulung ombak…Aku
tenggelam dan ketika muncul lagi aku tinggal sendiri, aku kembali melihat ibu melambaikan tangan padaku dan ibu terus dibawa air ke tengah laut. Aku mau menolong ibu tetapi tak sanggup, karena ibu jauh dariku. Akhirnya ibu hilang, tidak tampak lagi.

Ada 20 cerita yang ditulis oleh anak-anak yang mengalami tsunami. Mereka menceritakan pengalaman
mereka yang menyedihkan, menakutkan, penuh kepanikan dan kecemasan tapi juga penuh harapan akan keadaan yang lebih baik. Mereka adalah anak-anak yang tangguh, berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dan keluarga, juga orang-orang di sekitar mereka saat tsunami menghantam. Setelah tsunami berlalu, mereka menjadi anak-anak yang tabah, menjalani kegiatan seperti biasanya (sekolah), merintis kembali cita-cita yang mereka dambakan meskipun kehidupan sebagian besar dari mereka, tidak lagi selengkap dulu.

4. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerbit : Mizan

Dua orang saudara sepupu yang tinggal di kota yang berbeda memutuskan untuk tetap menjalin komunikasi. Mereka memilih sebuah buku sebagai media komunikasi, buku itu ditulis kejadian-kejadian yang mereka alami untuk kemudian saling dikirimkan. Dalam buku itu, ada
tali peristiwa yang menghubungkan mereka, dan mereka percaya bahwa ada sesuatu yang besar dan membahayakan yang akan terjadi dalam dunia perbukuan dan perpustakaan. Novel ini menceritakan petualangan, cerita detektif, misteri, diramu dengan berbagai teori tentang sastra, puisi, drama, film yang ujung-ujungnya adalah sebuah rencana besar untuk dunia perbukuan dan perpustakaan. Satu lagi novel ide yang unik dari penulis “Dunia Sophie” yang terkenal itu.

Membentang Sastra MP Book Point

Umberto Eco adalah filsuf dan sastrawan dunia yang telah mencapai status ikonik di ranah studi kebudayaan kontemporer.

Sebagai sastrawan, novel-novelnya sangat kental diwarnai penguasaannya atas semiotika –ia memang salah satu tokoh utama ilmu ini. Obsesinya dalam menekuni pengetahuan-pengetahuan yang terpinggirkan tampak dalam limpahan data pada karya-karya semacam The Name of The Rose atau Foucault's Pendulum.

Penerbit Bentang bulan ini menerbitkan terjemahan novelnya tentang Abad Pertengahan dan Perang Salib, Baudolino.

Doni Gahral Ardian, penulis dan ketua jurusan filsafat UI, akan mengulas khasanah kekaryaan Umberto Eco di MP Book Point. Sekaligus soft-launching "Baudolino" terjemahan Indonesia (Penerbit Bentang, Juni 2006).

Bentang Sastra Dunia
Setiap Jumat ketiga, pk. 18.30.
Klub Sastra Bentang-MP Book Point
23 Juni 2006
Membincang kekaryaan Umberto Eco Bersama: Doni Gahral Ardian (Ketua Jurusan Filsafat
UI) Host: Kurnia Effendi (Sastrawan)

Silakan datang ke MP Book Point, Jl. Puri Mutiara Raya 72, Jeruk Purut, Jakarta Selatan (021-759 102 12). Nikmati juga diskon untuk buku-buku sastra terpilih khusus untuk acara ini.

Jurnalisme Publik Profesional

Jurnalisme publik kini sudah memasuki dunia profesional, demikian menurut Jemima Kiss. Kali ini yang jadi targetnya adalah foto-foto menarik yang diambil dari ponsel kamera.

Citizen journalism has taken a significant step towards integration with the mainstream media with the launch of what is believed to be the world's first photographic agency for the medium.

Scoopt invites the public to send in newsworthy camera phone images after registering and agreeing to a code of practice. Scoopt then authenticates images where possible and sells material to news publishers.

The fee is split equally between Scoopt and the photographer, with rates likely to be comparable to those paid to professional photographers.

Pers Kampus Berteduh di UU Pers?

Sebuah diskusi menarik muncul di milis Jurnalisme Publik (http://groups.yahoo.com/group/jurnalismepublik/) mengenai pers kampus. Fahmul Amir yang memulai diskusinya:

Ada yang menarik seputar substansial UU Pers. Produk hukum ini menjamin  pers terbebas dari implikasi ekses negatif pemberitaan. Apabila dikonversikan dengan pers independen kampus. Apakah UU PERS juga membentengi upaya pembredelan media independen kampus? Saya melihat media apapun tidak akan merdeka dari penilaian miris atau gugatan publik (pembaca-).

Anggota milis lainnya, Asep Saefullah, ikut menimpali:

Pers, termasuk pers mahasiswa tentunya akan lebih dipandang jika independen. Tentu saja UU Pers dapat menjadi tameng terhadap upaya pemberangusan pers. Namun, pers juga harus menerapkan kode etik secara konsisten.

Mairi Nandarson, juga anggota milis, menulis:

Menarik tema yang ditawarkan sdr Fahmul Amir. Saya pernah aktif di koran kampus tahun 1994-1999, semua pola pemberitaan, etik jurnalistik, dan segala sesuatunya mengacu pada aturan umum yang berlaku di industri pers. Namun, soal pembredelan, menurut saya, kewenangan tertinggi tetap berada pada Pimpinan Kampus.Ada beberapa alasan menurut saya itu menjadi hak kampus: Koran Kampus jelas tidak komersial dan beredar untuk lingkungan kampus. Persoalannya, apakah media kampus mengupas persoalan luar kampus, semua isinya tetap mengacu pada visi keintelektualannya. Tidak ada kebebasan mutlak (semerdeka-merdekanya) dalam proses penerbitan kampus.

Bagaimana komentar yang lain? Bisakah pers kampus berteduh di bawah UU Pokok Pers? Atau cukup mengikuti peraturan internal di kampus? [J!]