Category Archives: Media

Mimpi Kok Disomasi?

Program parodi politik Republik Mimpi yang disiarkan MetroTV terancam disomasi karena kalangan pemerintah tidak merasa nyaman dengan content tayangannya.

“Pendidikan politik seperti itu tidak benar, tapi saya tidak bisa melarang. Saya kan mempelajari, jika memungkinkan, kita akan melayangkan somasi,” kata Menkominfo Sofyan Djalil seperti dikutip Detikcom.

Wah, set-back lagi nih. Mengapa pemerintah lebih suka mengurusi program acara TV tertentu, sementara tayangan lainnya yang juga tak mendidik, dibiarkan begitu saja? Tayangan sinetron yang lebih menjual mimpi, tayangan kekerasan tanpa sensor atau film horor yang tak masuk akal malah tidak diutak-atik…

Iklan

Jadi ‘Full Time Blogger’, Sebuah Pilihan

Terus-terang saya surprise (dan mungkin juga terharu): ternyata keputusan saya jadi penulis independen dan full-time blogger dengan meninggalkan profesi sebelumnya yang lumayan mapan, mendapat respon positif dari teman-teman semua.

Ada yang menuliskan posting di blognya maupun mengirimkan ucapan selamat via surat elektronik dan pesan pendek di ponsel.

* Blogger Profesional Pertama [Kuncoro]
* Selamat buat Budi Putra [Mardiyah @ Blog Tempo Interaktif]
* Indonesia’s first professional blogger? [Unspun]
* Budi Putra is no longer in Tempo [Maverick Indonesia]
* Blogger Full Time Pertama Indonesia [JaF]
* The Full Time Blogger to be [Dodi]

Oh ya, meskipun secara formal saya sudah tidak karyawan TEMPO lagi, saya masih ngeblog di Blog Tempo Interaktif. Makanya, saya bilang, sesungguhnya saya “setengah pamit” buat teman-teman di TEMPO.

Di sinilah saya akan ngeblog secara rutin:

* thegadget
* Indonesia Tech
* The Asia Tech
* 3GWeek
* Blog Jurnalisme
* Toekang IT – CNET Asia
* Blog Tempo Interaktif

Sekali lagi, terimakasih atas dukungannya! Ayo kita besarkan blogosfer Indonesia!

Sumber: thegadget

Diluncurkan, Blog Tempo Interaktif

blog_tempo_interaktif.gif

Blog Tempo Interaktif diluncurkan. Mencatatkan sejarah sebagai media pertama di Indonesia yang punya blog, Blog Tempo Interaktif adalah blog yang dipublikasikan sebagai bagian dari fitur Tempo Interaktif. Para bloggernya berasal dari kalangan wartawan dan redaktur di semua unit Group TEMPO.

Menggunakan platform WordPress, blog ini mengusung tema Blue Zinfandel 2.0 karya Brian Gardner. Sejumlah wartawannya yang juga blogger seperti Budi Putra dan Wicaksono akan ngeblog di sini.

Link: The Gadget

Panyingkul, Jurnalisme Orang Biasa

panyingkul.jpg

Pada tingkat tertentu, jurnalisme publik (citizen jurnalism) — salah satu medianya adalah weblog — akan menjadi salah satu andalan, yang mungkin tak dimiliki oleh jurnalisme media-media utama (mainstream). Sukses Ohmynews.com yang berbasis di Korea Selatan adalah salah satu buktinya. Di Indonesia, gerakan ini juga sudah mulai menggeliat. Panyingkul!, jurnalisme publik online yang berbasis di Makassar adalah contoh paling bagus. “Jika Anda di Panyingkul!, Anda akan merayakan jurnalisme orang biasa, orang-orang yang telah merebut kembali hak-haknya yang tidak lagi mendapat banyak tempat di media mainstream,” begitu salah satu penjelasan pengelola Panyingkul!

Karena terkait alasan-alasan dari sudut kepentingan bisnis, pemodal dan bahkan  keterbatasan space, media-media utama tak selalu mencerminkan kepentingan publik dalam pemberitaan dan editorialnya. Nah, dalam konteks inilah, jurnalisme publik menemukan momentum terbaiknya.

Ketika Tsunami Samudera Hindia menghantam pada tanggal 24 Desember 2004, warga di desa-desa pertanian Swedia — wilayah di belahan utara bumi yang puluhan ribu kilometer jaraknya dari area bencana — memperoleh kepastian keselamatan keluarga mereka lewat gambar-gambar real time berkat perpaduan teknologi digital kamera dan internet. Seorang turis yang mengalami peristiwa ini hanya memerlukan akses internet untuk mengabarkan kepada siapa saja, di mana saja, foto-foto dan video dari kamera digitalnya. Ia telah mengambil peran yang pada fase sebelumnya dimainkan dengan bangga oleh para reporter, para jurnalis, para editor.

Sudut pandang orang-orang biasa semakin tak bisa diabaikan. Di atas keserbacepatan informasi, ia kemudian tampil dominan. Catatan harian, dialog sehari-hari, opini dan kesaksian atas peristiwa yang disampaikan siapa saja, dari mana saja, di website dan webblog, menjadi genre baru bentuk komunikasi umat manusia yang kian marak saat ini.

Ini beriringan pula dengan kondisi krisis kredibilitas media massa mainstream di mana-mana. “Jurnalisme resmi” telah kehilangan landasan filosofis untuk terus bersombong diri dan mendiktekan apa yang sebaiknya diketahui atau tidak diketahui oleh publik. Ruang-ruang redaksi kian sulit menghindarkan rutin itu: mencoba tidak bias, obyektif, imparsial, terus-menerus, dari hari ke hari, ketika publik telah mempunyai akses masing-masing yang ternyata amat mudah dan murah ke sebuah peristiwa yang sama. Pada persilangan ini, orang dengan gampang kecewa, misalnya, setelah dengan mudah dan, sekali lagi amat murah, dapat mendeteksi ketidakakuratan media massa. Keserbacepatan dan keserbamudahan informasi telah melahirkan tantangan luar biasa pada elitisme media mainstream.

Tantangan itu bernama “jurnalisme orang biasa”, yang lahir dalam dekade terakhir ini di berbagai belahan dunia. Ada yang menyebutnya media akar rumput, media komunitas, media alternatif, netizen, atau citizen journalism. Semangat yang diusung adalah menjadi bagian dari ekosistem media secara keseluruhan dan mengharapkan terjadinya dialog dinamis dengan melibatkan masyarakat biasa dalam proses lahirnya sebuah berita.

Kami pun hendak menjadi bagian dari ekosistem media ini, dan merayakan “jurnalisme orang biasa”. Kami menyebutnya: Panyingkul! Sebuah Junction. Penanda persilangan dari segala arah. Ia ingin mendekati peristiwa, yang juga didekati oleh media mainstream, dengan sudut pandang orang biasa. Ia, misalnya, berada di tepi jalan ketika arak-arakan demonstrasi buruh lewat. Pada saat yang lain, ia mungkin berada di tengah-tengah buruh itu sendiri. Ia bisa tiba-tiba berada di rumah walikota atau gubernur, kemudian juga hadir di kamar pribadi para pegawai rendah. Ia mengembangkan gairah bercerita, bukan sekadar melaporkan peristiwa. Ia antara lain, misalnya, membagi kesan-kesan mendalam tentang kemiskinan, dan bukan sekadar mengabarkan berapa jumlah orang yang dikategorikan miskin, di suatu tempat, di suatu masa.

Kelahiran Panyingkul! diwujudkan atas kerjasama The Private Editors (Tokyo), Nesia Inc. (Kanagawa), Dekat Rumah Project (Jakarta), Kafe Baca Bibliocholic (Makassar), Penerbit Ininnawa (Makassar), Esso Wenni (Amsterdam), Script Intermedia (Makassar). Tim Produksi Panyingkul! adalah Lily Yulianti Farid, Moch. Hasymi Ibrahim, Farid Ma`ruf Ibrahim, Nesia Andriana, M. Aan Mansyur dan Rahmat Hidayat. Proses editorial dikerjakan oleh The Private Editors dan Dekat Rumah Project.

Jurnalisme Publik ala Wikimu.com

wikimuportal.jpg
Ini salah satu model jurnalisme publik (citizen journalism). Berasal dari publik, dipilih dan dibaca oleh publik. Para pembacalah yang akan memilih dan menentukan berita pilihannya — bukan editornya.

Bukan blog, bukan agregator. Inilah portal komunitas Wikimu.com yang mengusung konsep partisipatif. Bukanlah situs berita, walaupun Wikimu.com berisi aneka ragam informasi: mulai dari isu layanan publik, transportasi hingga suara konsumen.

Siapa saja bisa mendapatkan dan mengirimkan informasi, termasuk menambahkan, melengkapi, atau menyanggah informasi yang sudah ada. Siapa saja juga bisa menyampaikan kutipan informasi dari sumber berita yang dibaca, didengar, ditonton dari media-media umum seperti koran, majalah, radio, dan televisi dengan menyebutkan sumbernya. Pengunjung bisa menambahkan komentar terhadap berita dari media-media umum.

Untuk kirim berita, pengunjung bisa langsung menuliskannya di boks Kirim Warta tanpa harus mendaftar jadi member. Hanya saja, kalau tidak jadi member, berita yang dikirim tidak bisa di-vote dan si pengirim kehilangan kesempatan jadi Anggota Favorite — ya, narsis dikit bolehlah 🙂

Proses distribusi dan tukar menukar informasi ini dapat dilakukan tanpa biaya apa pun. Namun, untuk mendapatkan apresiasi atas partisipasi dalam Wikimu.com, Anda harus mendaftarkan diri sebagai anggota. Pendaftaran ini tidak dipungut biaya apa pun alias gratis.

via TheGadget

Diwawancara Perspektif Baru: Blog Berdampak Dahsyat

pblogo.gif

Kalau biasanya sering mewawancarai, kini giliran saya yang diwawancarai. Apalagi yang ini sungguh sebuah kehormatan dan penghargaan besar bagi saya karena diwawancarai oleh host Perspektif Baru, Wimar Witoelar:

Pembaca Perspektif Baru di manapun Anda berada, saya Wimar Witoelar berjumpa kembali dengan Anda. Di sini jujur saja, saya sangat excited karena ada tamu yang sangat exciting, yaitu Budi Putra. Menurut saya, dia adalah orang nomor satu atau nomor dua dalam dunia internet, khususnya blogging, di Indonesia. Budi Putra adalah redaktur informasi teknologi (IT) di Koran Tempo dan Content Manager di Tempo Interaktif. Dia juga penulis kolom di blog CNET Asia.

Budi Putra menyarankan kita untuk mulailah dari sekarang nge-blog. Blog adalah satu tempat yang sangat luar biasa untuk kita mengekspresikan diri. Blog mendorong semua orang agar bisa menulis. Kemampuan menulis tidak hanya dimiliki oleh wartawan atau penulis buku. Melalui blog seorang ibu rumah tangga juga bisa membuat diary seperti mengenai resep masakan saja. Seorang atlet bisa menulis tentang tips-tips kesehatan. Jadi kemampuan menulis adalah suatu sarana yang membuat kita makin lebih menguasai sesuatu yang sudah kita baca dan amati. Nah, blog merupakan muara dari semua itu.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Budi Putra. Baca selengkapnya.

Via TheGadget

Against domination, let’s build media communities

Written by Nursidah “Nida” Abdullah of Hasanuddin University, this article tries to view toward the extension of mass media in the future, by critical perspective from one of Mass Communication Theory; Cultural Imperialism Theory. Thanks, Nida!

CULTURAL IMPERIALISM THEORY

Explanation of Theory:

Cultural Imperialism Theory states that Western nations dominate the media around the world which in return has a powerful effect on Third World Cultures by imposing n them Western views and therefore destroying their native cultures.

Theorists: Herb Schiller
Date: 1973
Primary Article:  Schiller, H. J. (1973). Communication and Cultural Domination. White Plains, NY: International Arts and Science

The long-term efforts of human to build their civilization and world history has created curves against humanity faces. Human, with an Anthropocentrism world of view has grown up superiorly than the other things in this world.

Not only like that, apparently they also have made hierarchy in social life interactions. Karl Marx says there are social classes in the society. His Assumption is based on capital resources of authority (HCR- NCR). They are bourgeois class and proletarian class. And , if you believe, there is no ahistorical side, ..of course..too easy to summarize that everything has their own history. Even, social constructions and one of them is imperialism. Absolutely.

Let me say ..this isn’t a silent story. But, on the other hand..some times we say like this.. ”yes, I see, the World Is built by imperialism, but I don’t have ability, nor is it right, to fight that because we don’t have a power…”

In my mind..that is absolutely wrong way. Not because of we are powerless, but hopeless. But, not all of us like that…Of Course.

Media theorist, James W. Carey said that “a ritual view of communication is directed not toward the extension of messages in space but toward the maintenance of society in time;not the act of imparting information but the representation of shared beliefs”

Media size up means take a look at history again. Therefore, using Cultural Imperialism Theory as perspective is still relevant today. And finally, talking about mass communication means talking about the power of media as medium in information distribution its self.

Media domination by Western nations has produced a media reality image, West is the Best. Mass Communication Theory above stritcs is destroying native cultures is the effects by this situation, if we are just silent… and let’s this condition become snowball either, without criticism retrospect.

Based on this thing, it is reasonable if our native cultures are going to abrade by outsider cultures penetration. From now on.. we can see that the Indonesian Program Television is far away from native cultures exploration, but on the other hand TV Station program today explore too much in metropolitan life style which are outlandish things for Indonesian people, specially for villagers and islanders.

An offer to solve this problem is making media community. Media Community is an alternative and independent media for people. This is kind of media which is built by a group of people who have common goal and social contract. And, it’s consist of radio, TV channel, magazine, newspaper,etc.

Gradually, I hope media communities become counter attack and counter culture against west media domination and alternative mass media for people in every place in Indonesia. So..our truly native culture can recognizable, not just for Indonesia generation, but people in worldwide.