Category Archives: Print Journalism

Kapankan Jurnalis Harus Ungkap Siapa Sumbernya?

Jurnalis punya hak untuk tidak membeberkan jati-diri sumber atau informannya. Tapi ada kalanya jurnalis harus mengungkap siapa sumbernya. Kapankah?

Freedom of the Press: When Journalists Should Reveal Their Sources

By Candida Bohnne-Eittreim

Journalists have always claimed the right to protect their sources from exposure. One of the most notable cases was the Ellsburg Papers which led to the Watergate Scandal. That particular story was covered by Bob Woodward and Carl Bernstein, who tried to protect Daniel Ellsberg from disclosing how he came into possession of certain documents. This scenario is common to journalists who are investigating a major piece of ethical wrongdoing in governmental affairs. But the question here is, When should a journalist reveal sources, and under which circumstances?

Baca lebih lanjut

Iklan

Nir Rosen: Situasi di Irak Lebih Buruk dari Berita Media

nirrosen.jpg

Nir Rosen, seorang wartawan lepas yang tulisannya kerap muncul di surat kabar The New Yorker, The New York Times, dan majalah Time mengungkapkan, konflik yang terjadi di Irak lebih mengerikan dibandingkan dengan apa yang diberitakan di media massa. Menurut penulis yang menguasai bahasa Arab dan masih memiliki darah Iran dari ayahnya ini, konflik di Irak berpotensi mengancam situasi di seluruh Timur Tengah.

Baca lebih lanjut

Apresiasi Jurnalis Jakarta 2006

ajijak.jpgApresiasi Jurnalis Jakarta merupakan suatu penghargaan yang diberikan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta kepada jurnalis-jurnalis muda di Jakarta yang
menunjukkan dedikasi dan konsistensi yang tinggi terhadap profesinya, melalui karya-karya jurnalistik yang berkualitas –diutamakan yang menggunakan teknik investigasi– dan menimbulkan pengaruh cukup luas di
kalangan masyarakat.

Apresiasi Jurnalis Jakarta diberikan setiap tahun mulai tahun 2002, dan diumumkan bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun AJI setiap Agustus. Penganugerahan penghargaan ini digagas sebagai upaya untuk ikut merangsang munculnya karya-karya jurnalistik yang berbobot dari para jurnalis muda di Jakarta.

Apresiasi Jurnalis Jakarta pernah dianugerahkan antara lain untuk Karaniya Dharmasaputra, jurnalis Majalah Berita Mingguan TEMPO, atas karya-karya jurnalistik yang menunjukkan konsistensi dan kegigihan dalam mengungkap kasus Buloggate II di Majalah TEMPO.

Juga Heru Bahtiar Arifin, jurnalis harian Bali Post perwakilan Jakarta, atas karya jurnalistik yang menunjukkan ketelatenan untuk mencari bukti kesehatan bekas Presiden Soeharto.

Untuk tahun ini, Apresiasi Jurnalis Jakarta dibagi atas dua kategori:

  1. Kategori media cetak dan online; diberikan kepada jurnalis yang bekerja dan menghasilkan karya jurnalistik di media cetak dan online, atas karya-karya berpengaruh mengenai persoalan-persoalan atau isu yang bersifat lokal, nasional maupun internasional.
  2. Kategori media radio dan televisi; diberikan kepada jurnalis yang bekerja dan menghasilkan karya jurnalistik di media radio dan televisi, atas kjarya-karya berpengaruh mengenai persoalan-persoalan atau isu yang bersifat lokal, nasional maupun internasional.

Siapa saja yang Bisa Mendaftar?

Kompetisi ini terbuka untuk untuk setiap jurnalis cetak/online, radio dan televisi, baik anggota AJI Jakarta maupun bukan, yang melakukan reportase an tugas jurnalistik sehari-harinya di wilayah akarta raya (Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, Bekasi). Setiap karya harus pernah dipublikasikan atau disiarkan antara Januari 2005 sampai Juli 2006.

Lebih lanjut lihat situs AJI Jakarta

Teknik Penulisan Kolom (7-Habis)

“MENJUAL” KOLOM KE MEDIA

Apa yang umumnya dipertimbangkan oleh redaktur esai/opini untuk memuat tulisan Anda?

  • Nama penulis: para redaktur tak mau ambil pusing, mereka umumnya akan cepat memilih penulis yang sudah punya namaketimbang penulis baru. Jika Anda penulis baru, ini merupakan tantangan terbesar. Tapi, bukankah tak pernah ada penulis yang “punya nama” tanpa pernah menjadi penulis pemula? Jangan segan mencoba dan mencoba jika tulisan ditolak. Tidak ada pula penulis yang langsung berada di puncak; mereka melewati tangga yang panjang dan terjal. Anda bisa melakukannya dengan menulis di media mahasiswa, lalu menguji keberanian di koran lokal sebelum menulis untuk koran seperti Kompas atau majalah Tempo.
  • Otoritas: redaktur umumnya juga lebih senang menerima tulisan dari penulis yang bisa menunjukkan bahwa dia menguasai masalah. Tidak selalu ini berarti sang penulis adalah master atau doktor dalam bidang tersebut.
  • Style dan Personalitas: tema tulisan barangkali biasa saja, tapi jika Anda menuliskannya dengan gaya “style” yang orisinal dan istimewa serta sudut pandang yang unik, kemungkinan besar sang redaktur akan memuatnya.
  • Populer: koran dan majalah dibaca oleh khalayak yang luas. Tema tulisan harus cukup populer bagi pembaca awam, tanpa kehilangan kedalaman. Bahkan seorang doktor dalam antropologi adalah pembaca awam dalam fisika. Kuncinya: tidak nampak bodoh dibaca oleh orang yang paham bidang itu, tapi tidak terlalu rumit bagi yang tidak banyak mendalaminya.

Kiat Menulis dalam Bahasa Inggris (2)

Kemampuan menulis adalah satu hal dan bagaimana menulisnya dalam Bahasa Inggris adalah hal lain lagi. Mungkin ada baiknya menyimak pengalaman dan kiat Andreas Harsono, satu dari sedikit dari penulis Indonesia yang jago menulis dalam Bahasa Inggris. Terimakasih buat Bung Andreas atas izin pemuatan artikel ini untuk Blog Jurnalisme.
*

Belajarlah mula-mula dengan piramida terbalik. Lalu feature dan analisis. Lalu narasi.

Sebagai kolumnis, saya melatih diri berargumentasi, mencoba menyakinkan orang yang tak setuju dengan saya, agar mengerti isu yang saya kemukakan. Setidaknya, mereka setuju dengan metode analisisnya. Saya banyak belajar bagaimana menulis opini dari situs web Pulitzer Prize. Di situ banyak contoh. Saya menggunakan kata-kata sederhana saja. Kalau kesulitan, saya mencari kamus atau menelepon teman yang native speaker.

Ketika dapat beasiswa dan belajar di Universitas Harvard, barulah saya mengerti ada struktur yang lebih rumit lagi: NARASI.

Kerennya, disebut “jurnalisme sastrawi.” Anda menyebutnya “penulisan kreatif.” Saya lebih suka nama “narasi” tapi nama “jurnalisme sastrawi” lebih populer. Padahal salah kaprah sering muncul. Dikiranya, ini penulisan fakta yang mendayu-dayu dan puitis.

Bill Kovach, guru saya di Harvard, mendorong saya belajar narasi. Kovach juga mententir harus baca buku apa? Tiap minggu ia cek. Sudah selesai? Kalau sudah, ia beri judul lagi. Black Hawk Down. Philadelphia Aurora. The New York Times. CBS. The New Yorker, Scotty Reston, Harold Ross, David Halberstam dan sebagainya.

Pulang dari Boston, menulis untuk media internasional secara freelance, sambil menyunting majalah Pantau. Inilah periode ketika saya benar-benar belajar dan berlatih bersama rekan-rekan Pantau lainnya: Agus Sopian, Agus Sudibyo, Alfian Hamzah, Budiman S. Hartojo, Budi Setiyono, Chik Rini, Coen Husain Pontoh, Eriyanto, Hamid Basyaib, Helena Rea, Heru Widhi Handayani, Indarwati Aminuddin, Irawan Saptono, Ni Luh Sekar, Linda Christanty, Max Wangkar, Sirikit Syah, Veven Sp. Wardhana dan masih banyak lainnya (sorry rek nek ono sing lali).

Sambil menulis dalam Bahasa Indonesia, saya juga membandingkannya dengan bahasa Inggris. Saya sendiri nggak punya bahasa ibu yang official. Saya lahir di Jember, satu kota tembakau di Jawa Timur. Nama pemberian orang tua saya, “Ong Tjie Liang,” tapi oleh rezim Orde Baru, kami dipaksa ganti jadi nama “Indonesia.” Nama “Ong Tjie Liang” dianggap “bukan Indonesia,” dianggap belum membaur. Papa orang Hokkian. Mama orang Hakka. Di jalanan, kami memanggil satu dengan lainnya dengan “lu” dan “gua.” Tapi nenek kecil orang Jawa asal Tuntang, Malang. Saya memanggilnya “kima.”

Jadi saya besar dengan budaya campuran. Besar dengan Man Tuka yang Madura. Mbek Wie yang Madura. Pak Tie yang Jawa. Masa kecil yang menggembirakan. Omong Madura, Jawa, Melayu, Hokkian.

Enak. Gado-gado. Kamsia. Kulo nuwun. Sampeyan. Kebacut. Selangkong. Dan (maaf) Diancuk.

(Kata terakhir itu difamilierken lagi ke kuping saya oleh Alfian Hamzah dalam “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan.” Alfian sendiri belajar dari anggota-anggota Batalyon Infanteri 521/Dadaha Yodha Kediri yang bertugas di Aceh Barat pada 2002).

Ketika kecil, juga ada bahasa Indonesia ala TVRI dan RRI –yang rasanya keriting di kuping tapi mereka bilang inilah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketika duduk di bangku SMPK Maria Fatimah Jember, belajar bahasa Inggris dengan Pak Hur, guru bahasa Inggris di sana. Saya paling muda sekelas.

Ketika masuk SMAK St. Albertus Malang, ambil kursus bahasa Inggris privat, di rumah seorang dosen IKIP Malang. Bahkan sudah lupa namanya. Tante itu baik sekali. Lalu sempat les bahasa Jerman di satu pusat kursus di Malang. Juga lupa namanya. Cuma ingat, “Ich liebe dich.” Tapi punya temen-temen yang hebat, yang mengajar saya untuk belajar apa saja untuk maju. Pastor kepala sekolah kami, Pater E. Siswanto, juga orang liberal yang berpikir terbuka. Hidupnya penuh tragedi tapi ia mendidik kami dengan terbuka. Keluarganya mati dibunuh perampok.

Masuk kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, daerah pekat Jawa-Mataram, yang makanannya terasa berlebihan manis untuk lidah Jember saya. Logat Jawatimuran dianggap kasar. Apalagi omong kata, “Diancuk.” Padahal di Malang dan Jember, “diancuk” adalah bumbu omongan perkoncoan. Nggak apa-apa. Belajar Kromo Inggil untuk pergaulan. Orang Cina, to be politically correct, orang Tionghoa, disana juga alus-alus Kromo Inggil.

Di Salatiga, juga kerja sebagai aktivis grassroot (ceile!) dengan para sais dokar. Tiap hari ada di terminal dokar Margosari. Orang-orang Jawa tapi “ngoko.” Komboran. Jaran. Suket. Maka mulailah saya dikenal sebagai “Mas Andreas” oleh Pak Achmadi, Mas Sukardi, Mas Slamet, Bu Endang, Mas Wagimin dan sebagainya. Lalu sempat mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak mereka, dan dipanggil, “Oom Andreas.”

Lulus kuliah, saya bekerja di Phonm Penh. Bicara bahasa Inggris tapi sempat ambil kursus bahasa Khmer, sehingga bisa bilang, “Cum riep sak sabai?” Artinya, “How are you?” atau “Are you okay?” Lalu tukang masak di rumah indekost, sering mengajar kalimat, “Rom Khmer Grohom.” Artinya, “Crush the Khmer Rouge.” Serem. Hi. Orang Khmer masih trauma dengan “Killing Fields” ala Khmer Rouge. Bahkan koki di rumah tak suka dengan Khmer Grohom.

Saya belajar dengan sering switching bahasa. Logika, sering bolak-balik antara logika Melayu, Madura, Jawa dan Inggris. Kalau berhitung dalam hati, saya menggunakan Mandarin, “Ik, ol, san, tse, u, liok ….” Suka sekali main-main dengan kosakata. Adam Ellick, rekan dari Fulbright yang kebetulan sering main ke Pantau, mengatakan pemakaian kata Melayu dalam karya bahasa Inggris saya, membuatnya jadi kenal kalau ini karya saya. Suatu saat, Adam ketemu suatu karya soal bajak laut di Batam. Ia merasa akrab dengan gaya itu. Tapi tak ada byline. Ia menduga karya saya. Ternyata benar.

Saya cinta dengan bahasa-bahasa. Goenawan Mohamad, mentor saya di Institut Studi Arus Informasi, mengatakan saya punya bakat di bidang bahasa. Saya tak tahu. Saya hanya tahu imajinasi bahasa melampaui khayalan saya sendiri. Kita tak pernah tahu batas dari kata-kata kita sendiri. Terkadang satu pokok pikiran saya tuangkan dalam dua bahasa dengan khayalan atas dua audiens yang berbeda. Menulis khan soal khayalan tentang audiens bukan?

Jadi bagaimana resepnya? Belajarlah. Mulai sekarang juga. Seraplah sebanyak mungkin bahasa. Bukan hanya bahasa Indonesia. Tapi semuanya. Ia akan memperkaya nalar dan komparasi berbahasa Anda. Ia akan membuat jarak bahasa jadi sempit, bahkan mesra. Grammar hanya soal logika. Belajarlah mula-mula dengan piramida terbalik. Lalu feature dan analisis. Lalu narasi.

Mudah-mudahan cerita ini membantu Anda. Mohon maaf, ini bukan jawaban seorang guru bahasa Inggris. Tapi seorang wartawan. Terima kasih dan selamat belajar.

Kiat Menulis dalam Bahasa Inggris (1)

Kemampuan menulis adalah satu hal dan bagaimana menulisnya dalam Bahasa Inggris adalah hal lain lagi. Mungkin ada baiknya menyimak pengalaman dan kiat Andreas Harsono, satu dari sedikit dari penulis Indonesia yang jago menulis dalam Bahasa Inggris. Terimakasih buat Bung Andreas atas izin pemuatan artikel ini untuk Blog Jurnalisme.


andreas.jpg

Saya punya rahasia. Bekerjalah di harian The Jakarta Post! Saya tak bisa menulis Inggris sampai saya masuk ke sana pada 1993.

INI pertanyaan gampang-gampang sulit. Bagaimana cara belajar menulis dalam bahasa Inggris?

Saya bukan guru bahasa Inggris. Tapi saya bisa cerita tentang bagaimana saya sendiri belajar menulis dalam bahasa Inggris?

Saya punya rahasia. Bekerjalah di harian The Jakarta Post! Saya tak bisa menulis Inggris sampai saya masuk ke sana pada 1993.

Terima kasih untuk Endy Bayuni, Hartoyo Pratignyo, Oei Eng Goan, Thayeb Sabil dan Vincent Lingga. Mereka mengajar saya menulis berita dengan struktur piramida terbalik dalam bahasa Inggris. Ini langkah pertama. Menulis dalam piramida terbalik.

Mula-mula sulit tapi lama-lama biasa juga. Pak Eng Goan mengajari style. Mas Endy memberitahu saya Thesaurus sehingga spelling bisa kita cek lewat komputer (Bahasa Indonesia nggak punya khan?).

Lalu setahun di sana, pindah ke harian The Nation di Bangkok. Lebih banyak menulis feature. Itu pertama kali saya sadar bahwa standar jurnalisme di sana beda dengan di sini. Mereka pakai byline, pakai firewall, mempekerjakan kolumnis dan sebagainya. Ini praktek yang tak ada dalam jurnalisme ala Palmerah hingga Kebon Jeruk.

Belakangan baru sadar standar di media Palmerah, termasuk harian Kompas, Media Indonesia, Tempo, Gatra dan rombongannya, termasuk ketinggalan banget dari rekan mereka di Bangkok atau Hong Kong.

The Nation belakangan menunjuk saya jadi kolumnis. Digaji tiap bulan. Lumayan gajinya dalam dollar Amerika. Bisa buat menabung. Apalagi saat krisis moneter. Satu dollar pernah jadi Rp 23,000.

Tahun 1996, tiap minggu menulis kolom di halaman editorial. Mereka memberi kesempatan saya menulis panjang, satu halaman penuh, terkadang lebih. Mewah banget bukan? Umur saya baru 31 tahun.

Di sana saya melatih diri menulis esai, sebaik-baiknya. Mulai dari soal skandal bisnis emas Busang, Timor Lorosae, Aceh, Partai Rakyat Demokratik, Sri Bintang Pamungkas, Aung San Suu Kyi, kebrutalan tentara Indonesia dan sebagainya. Saya juga boleh menulis untuk media lain asal bukan saingan The Nation –misalnya The Bangkok Post.

Maka saya menulis untuk The American Reporter secara gratisan. Saya suka karena The American Reporter mencoba jadi media alternatif di Amerika Serikat. Saya dibayar kalau berita dipakai media lain. Joe Shea, editor di sana, banyak membantu meningkatkan mutu reportase saya. Dia juga mengomel kalau salah grammar. (bersambung)

Teknik Penulisan Kolom (6):

Mencari ide tulisan
Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya.

Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).

Merumuskan masalah
Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek.

Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan
Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.

Menentukan bentuk penuturan
Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Tapi, tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih bentuk penuturan yang ajeg untuk setiap tema yang ditulisnya:

  • Dialog (Umar Kayam)
  • Reflektif (Goenawan Mohamad)
  • Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
  • Humor/Satir (Mahbub Junaedi)

Menulis
Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).

Akurasi Fakta
: tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?

Jargon dan Istilah Teknis: hindari sebisa mungkin jargon atau istilah teknis yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan deskripsi atau anekdot atau metafora untuk menggantikannya. Hindari sebisa mungkin bahasa Inggris atau bahasa daerah.

Sunting dan Pendekkan: seraya menulis atau setelah tulisan selesai, baca kembali. Potong kalimat yang terlalu panjang; atau jadikan dua kalimat. Hilangkan repetisi. Pilih frase kata yang lebih pendek: melakukan pembunuhan bisa diringkas menjadi membunuh. “Tidak” sering bisa diringkas menjadi “tak”, “meskipun” menjadi “meski” dan sebagainya.

Pakai kata kerja aktif: kata kerja aktif adalah motor dalam kalimat, dia mendorong pembaca menuju akhir, mempercepat bacaan. Kata kerja pasif menghambat proses membaca. Pakai kalimat pasif hanya jika tak terhindarkan.

Tak menggurui: meski Anda perlu menunjukkan bahwa Anda menguasai persoalan (otoritatif dalam bidang yang ditulis) hindari bersikap menggurui. Jika mungkin hindari kata “seharusnya”, “semestinya” dan sejenisnya. Gunakan kreatifitas dan ketrampilan mendongeng seraya menyampaikan pesan. Don’t tell it, show it.

Tampilkan anekdot: jika mungkin perkaya tulisan Anda dengan anekdot, ironi dan tragedi yang membuat tulisan Anda lebih “basah” dan berjiwa.

Jangan arogan: orang yang tak setuju dengan Anda belum tentu bodoh. Hormati keragaman pendapat. Opini Anda, bahkan jika Anda meyakininya sepenuh hati, hanya satu saja kebenaran. Ada banyak kebenaran di “luar sana”.

Uji Tulisan Anda: minta teman dekat, saudara, istri, pacar untuk membaca tulisan yang sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik mereka yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa membantu kita menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita koreksi sebelum diluncurkan ke media. (Farid Gaban)