Category Archives: Publisher

Panyingkul, Jurnalisme Orang Biasa

panyingkul.jpg

Pada tingkat tertentu, jurnalisme publik (citizen jurnalism) — salah satu medianya adalah weblog — akan menjadi salah satu andalan, yang mungkin tak dimiliki oleh jurnalisme media-media utama (mainstream). Sukses Ohmynews.com yang berbasis di Korea Selatan adalah salah satu buktinya. Di Indonesia, gerakan ini juga sudah mulai menggeliat. Panyingkul!, jurnalisme publik online yang berbasis di Makassar adalah contoh paling bagus. “Jika Anda di Panyingkul!, Anda akan merayakan jurnalisme orang biasa, orang-orang yang telah merebut kembali hak-haknya yang tidak lagi mendapat banyak tempat di media mainstream,” begitu salah satu penjelasan pengelola Panyingkul!

Karena terkait alasan-alasan dari sudut kepentingan bisnis, pemodal dan bahkan  keterbatasan space, media-media utama tak selalu mencerminkan kepentingan publik dalam pemberitaan dan editorialnya. Nah, dalam konteks inilah, jurnalisme publik menemukan momentum terbaiknya.

Ketika Tsunami Samudera Hindia menghantam pada tanggal 24 Desember 2004, warga di desa-desa pertanian Swedia — wilayah di belahan utara bumi yang puluhan ribu kilometer jaraknya dari area bencana — memperoleh kepastian keselamatan keluarga mereka lewat gambar-gambar real time berkat perpaduan teknologi digital kamera dan internet. Seorang turis yang mengalami peristiwa ini hanya memerlukan akses internet untuk mengabarkan kepada siapa saja, di mana saja, foto-foto dan video dari kamera digitalnya. Ia telah mengambil peran yang pada fase sebelumnya dimainkan dengan bangga oleh para reporter, para jurnalis, para editor.

Sudut pandang orang-orang biasa semakin tak bisa diabaikan. Di atas keserbacepatan informasi, ia kemudian tampil dominan. Catatan harian, dialog sehari-hari, opini dan kesaksian atas peristiwa yang disampaikan siapa saja, dari mana saja, di website dan webblog, menjadi genre baru bentuk komunikasi umat manusia yang kian marak saat ini.

Ini beriringan pula dengan kondisi krisis kredibilitas media massa mainstream di mana-mana. “Jurnalisme resmi” telah kehilangan landasan filosofis untuk terus bersombong diri dan mendiktekan apa yang sebaiknya diketahui atau tidak diketahui oleh publik. Ruang-ruang redaksi kian sulit menghindarkan rutin itu: mencoba tidak bias, obyektif, imparsial, terus-menerus, dari hari ke hari, ketika publik telah mempunyai akses masing-masing yang ternyata amat mudah dan murah ke sebuah peristiwa yang sama. Pada persilangan ini, orang dengan gampang kecewa, misalnya, setelah dengan mudah dan, sekali lagi amat murah, dapat mendeteksi ketidakakuratan media massa. Keserbacepatan dan keserbamudahan informasi telah melahirkan tantangan luar biasa pada elitisme media mainstream.

Tantangan itu bernama “jurnalisme orang biasa”, yang lahir dalam dekade terakhir ini di berbagai belahan dunia. Ada yang menyebutnya media akar rumput, media komunitas, media alternatif, netizen, atau citizen journalism. Semangat yang diusung adalah menjadi bagian dari ekosistem media secara keseluruhan dan mengharapkan terjadinya dialog dinamis dengan melibatkan masyarakat biasa dalam proses lahirnya sebuah berita.

Kami pun hendak menjadi bagian dari ekosistem media ini, dan merayakan “jurnalisme orang biasa”. Kami menyebutnya: Panyingkul! Sebuah Junction. Penanda persilangan dari segala arah. Ia ingin mendekati peristiwa, yang juga didekati oleh media mainstream, dengan sudut pandang orang biasa. Ia, misalnya, berada di tepi jalan ketika arak-arakan demonstrasi buruh lewat. Pada saat yang lain, ia mungkin berada di tengah-tengah buruh itu sendiri. Ia bisa tiba-tiba berada di rumah walikota atau gubernur, kemudian juga hadir di kamar pribadi para pegawai rendah. Ia mengembangkan gairah bercerita, bukan sekadar melaporkan peristiwa. Ia antara lain, misalnya, membagi kesan-kesan mendalam tentang kemiskinan, dan bukan sekadar mengabarkan berapa jumlah orang yang dikategorikan miskin, di suatu tempat, di suatu masa.

Kelahiran Panyingkul! diwujudkan atas kerjasama The Private Editors (Tokyo), Nesia Inc. (Kanagawa), Dekat Rumah Project (Jakarta), Kafe Baca Bibliocholic (Makassar), Penerbit Ininnawa (Makassar), Esso Wenni (Amsterdam), Script Intermedia (Makassar). Tim Produksi Panyingkul! adalah Lily Yulianti Farid, Moch. Hasymi Ibrahim, Farid Ma`ruf Ibrahim, Nesia Andriana, M. Aan Mansyur dan Rahmat Hidayat. Proses editorial dikerjakan oleh The Private Editors dan Dekat Rumah Project.

Iklan

Teknik Penulisan Kolom (7-Habis)

“MENJUAL” KOLOM KE MEDIA

Apa yang umumnya dipertimbangkan oleh redaktur esai/opini untuk memuat tulisan Anda?

  • Nama penulis: para redaktur tak mau ambil pusing, mereka umumnya akan cepat memilih penulis yang sudah punya namaketimbang penulis baru. Jika Anda penulis baru, ini merupakan tantangan terbesar. Tapi, bukankah tak pernah ada penulis yang “punya nama” tanpa pernah menjadi penulis pemula? Jangan segan mencoba dan mencoba jika tulisan ditolak. Tidak ada pula penulis yang langsung berada di puncak; mereka melewati tangga yang panjang dan terjal. Anda bisa melakukannya dengan menulis di media mahasiswa, lalu menguji keberanian di koran lokal sebelum menulis untuk koran seperti Kompas atau majalah Tempo.
  • Otoritas: redaktur umumnya juga lebih senang menerima tulisan dari penulis yang bisa menunjukkan bahwa dia menguasai masalah. Tidak selalu ini berarti sang penulis adalah master atau doktor dalam bidang tersebut.
  • Style dan Personalitas: tema tulisan barangkali biasa saja, tapi jika Anda menuliskannya dengan gaya “style” yang orisinal dan istimewa serta sudut pandang yang unik, kemungkinan besar sang redaktur akan memuatnya.
  • Populer: koran dan majalah dibaca oleh khalayak yang luas. Tema tulisan harus cukup populer bagi pembaca awam, tanpa kehilangan kedalaman. Bahkan seorang doktor dalam antropologi adalah pembaca awam dalam fisika. Kuncinya: tidak nampak bodoh dibaca oleh orang yang paham bidang itu, tapi tidak terlalu rumit bagi yang tidak banyak mendalaminya.

Kiat Menulis dalam Bahasa Inggris (2)

Kemampuan menulis adalah satu hal dan bagaimana menulisnya dalam Bahasa Inggris adalah hal lain lagi. Mungkin ada baiknya menyimak pengalaman dan kiat Andreas Harsono, satu dari sedikit dari penulis Indonesia yang jago menulis dalam Bahasa Inggris. Terimakasih buat Bung Andreas atas izin pemuatan artikel ini untuk Blog Jurnalisme.
*

Belajarlah mula-mula dengan piramida terbalik. Lalu feature dan analisis. Lalu narasi.

Sebagai kolumnis, saya melatih diri berargumentasi, mencoba menyakinkan orang yang tak setuju dengan saya, agar mengerti isu yang saya kemukakan. Setidaknya, mereka setuju dengan metode analisisnya. Saya banyak belajar bagaimana menulis opini dari situs web Pulitzer Prize. Di situ banyak contoh. Saya menggunakan kata-kata sederhana saja. Kalau kesulitan, saya mencari kamus atau menelepon teman yang native speaker.

Ketika dapat beasiswa dan belajar di Universitas Harvard, barulah saya mengerti ada struktur yang lebih rumit lagi: NARASI.

Kerennya, disebut “jurnalisme sastrawi.” Anda menyebutnya “penulisan kreatif.” Saya lebih suka nama “narasi” tapi nama “jurnalisme sastrawi” lebih populer. Padahal salah kaprah sering muncul. Dikiranya, ini penulisan fakta yang mendayu-dayu dan puitis.

Bill Kovach, guru saya di Harvard, mendorong saya belajar narasi. Kovach juga mententir harus baca buku apa? Tiap minggu ia cek. Sudah selesai? Kalau sudah, ia beri judul lagi. Black Hawk Down. Philadelphia Aurora. The New York Times. CBS. The New Yorker, Scotty Reston, Harold Ross, David Halberstam dan sebagainya.

Pulang dari Boston, menulis untuk media internasional secara freelance, sambil menyunting majalah Pantau. Inilah periode ketika saya benar-benar belajar dan berlatih bersama rekan-rekan Pantau lainnya: Agus Sopian, Agus Sudibyo, Alfian Hamzah, Budiman S. Hartojo, Budi Setiyono, Chik Rini, Coen Husain Pontoh, Eriyanto, Hamid Basyaib, Helena Rea, Heru Widhi Handayani, Indarwati Aminuddin, Irawan Saptono, Ni Luh Sekar, Linda Christanty, Max Wangkar, Sirikit Syah, Veven Sp. Wardhana dan masih banyak lainnya (sorry rek nek ono sing lali).

Sambil menulis dalam Bahasa Indonesia, saya juga membandingkannya dengan bahasa Inggris. Saya sendiri nggak punya bahasa ibu yang official. Saya lahir di Jember, satu kota tembakau di Jawa Timur. Nama pemberian orang tua saya, “Ong Tjie Liang,” tapi oleh rezim Orde Baru, kami dipaksa ganti jadi nama “Indonesia.” Nama “Ong Tjie Liang” dianggap “bukan Indonesia,” dianggap belum membaur. Papa orang Hokkian. Mama orang Hakka. Di jalanan, kami memanggil satu dengan lainnya dengan “lu” dan “gua.” Tapi nenek kecil orang Jawa asal Tuntang, Malang. Saya memanggilnya “kima.”

Jadi saya besar dengan budaya campuran. Besar dengan Man Tuka yang Madura. Mbek Wie yang Madura. Pak Tie yang Jawa. Masa kecil yang menggembirakan. Omong Madura, Jawa, Melayu, Hokkian.

Enak. Gado-gado. Kamsia. Kulo nuwun. Sampeyan. Kebacut. Selangkong. Dan (maaf) Diancuk.

(Kata terakhir itu difamilierken lagi ke kuping saya oleh Alfian Hamzah dalam “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan.” Alfian sendiri belajar dari anggota-anggota Batalyon Infanteri 521/Dadaha Yodha Kediri yang bertugas di Aceh Barat pada 2002).

Ketika kecil, juga ada bahasa Indonesia ala TVRI dan RRI –yang rasanya keriting di kuping tapi mereka bilang inilah Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketika duduk di bangku SMPK Maria Fatimah Jember, belajar bahasa Inggris dengan Pak Hur, guru bahasa Inggris di sana. Saya paling muda sekelas.

Ketika masuk SMAK St. Albertus Malang, ambil kursus bahasa Inggris privat, di rumah seorang dosen IKIP Malang. Bahkan sudah lupa namanya. Tante itu baik sekali. Lalu sempat les bahasa Jerman di satu pusat kursus di Malang. Juga lupa namanya. Cuma ingat, “Ich liebe dich.” Tapi punya temen-temen yang hebat, yang mengajar saya untuk belajar apa saja untuk maju. Pastor kepala sekolah kami, Pater E. Siswanto, juga orang liberal yang berpikir terbuka. Hidupnya penuh tragedi tapi ia mendidik kami dengan terbuka. Keluarganya mati dibunuh perampok.

Masuk kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, daerah pekat Jawa-Mataram, yang makanannya terasa berlebihan manis untuk lidah Jember saya. Logat Jawatimuran dianggap kasar. Apalagi omong kata, “Diancuk.” Padahal di Malang dan Jember, “diancuk” adalah bumbu omongan perkoncoan. Nggak apa-apa. Belajar Kromo Inggil untuk pergaulan. Orang Cina, to be politically correct, orang Tionghoa, disana juga alus-alus Kromo Inggil.

Di Salatiga, juga kerja sebagai aktivis grassroot (ceile!) dengan para sais dokar. Tiap hari ada di terminal dokar Margosari. Orang-orang Jawa tapi “ngoko.” Komboran. Jaran. Suket. Maka mulailah saya dikenal sebagai “Mas Andreas” oleh Pak Achmadi, Mas Sukardi, Mas Slamet, Bu Endang, Mas Wagimin dan sebagainya. Lalu sempat mengajar bahasa Inggris untuk anak-anak mereka, dan dipanggil, “Oom Andreas.”

Lulus kuliah, saya bekerja di Phonm Penh. Bicara bahasa Inggris tapi sempat ambil kursus bahasa Khmer, sehingga bisa bilang, “Cum riep sak sabai?” Artinya, “How are you?” atau “Are you okay?” Lalu tukang masak di rumah indekost, sering mengajar kalimat, “Rom Khmer Grohom.” Artinya, “Crush the Khmer Rouge.” Serem. Hi. Orang Khmer masih trauma dengan “Killing Fields” ala Khmer Rouge. Bahkan koki di rumah tak suka dengan Khmer Grohom.

Saya belajar dengan sering switching bahasa. Logika, sering bolak-balik antara logika Melayu, Madura, Jawa dan Inggris. Kalau berhitung dalam hati, saya menggunakan Mandarin, “Ik, ol, san, tse, u, liok ….” Suka sekali main-main dengan kosakata. Adam Ellick, rekan dari Fulbright yang kebetulan sering main ke Pantau, mengatakan pemakaian kata Melayu dalam karya bahasa Inggris saya, membuatnya jadi kenal kalau ini karya saya. Suatu saat, Adam ketemu suatu karya soal bajak laut di Batam. Ia merasa akrab dengan gaya itu. Tapi tak ada byline. Ia menduga karya saya. Ternyata benar.

Saya cinta dengan bahasa-bahasa. Goenawan Mohamad, mentor saya di Institut Studi Arus Informasi, mengatakan saya punya bakat di bidang bahasa. Saya tak tahu. Saya hanya tahu imajinasi bahasa melampaui khayalan saya sendiri. Kita tak pernah tahu batas dari kata-kata kita sendiri. Terkadang satu pokok pikiran saya tuangkan dalam dua bahasa dengan khayalan atas dua audiens yang berbeda. Menulis khan soal khayalan tentang audiens bukan?

Jadi bagaimana resepnya? Belajarlah. Mulai sekarang juga. Seraplah sebanyak mungkin bahasa. Bukan hanya bahasa Indonesia. Tapi semuanya. Ia akan memperkaya nalar dan komparasi berbahasa Anda. Ia akan membuat jarak bahasa jadi sempit, bahkan mesra. Grammar hanya soal logika. Belajarlah mula-mula dengan piramida terbalik. Lalu feature dan analisis. Lalu narasi.

Mudah-mudahan cerita ini membantu Anda. Mohon maaf, ini bukan jawaban seorang guru bahasa Inggris. Tapi seorang wartawan. Terima kasih dan selamat belajar.

Teknik Penulisan Kolom (6):

Mencari ide tulisan
Ada banyak sekali tema di sekitar kita. Namun kita hanya bisa menemukannya jika memiliki kepekaan. Jika kita banyak melihat dan mengamati lingkungan, lalu menuliskannya dalam catatan harian, ide tulisan sebenarnya “sudah ada di situ” tanpa kita perlu mencarinya.

Tema itu bahkan terlalu banyak sehingga kita kesulitan memilihnya. Untuk mempersempti pilihan, pertimbangkan aspek signifikansi (apa pentingnya buat pembaca) dan aktualitas (apakah tema itu tidak terlampau basi).

Merumuskan masalah
Esai yang baik umumnya ringkas (“Less is more” kata Ernest Hemingway) dan fokus. Untuk bisa menjamin esai itu ditulis secara sederhana, ringkas tapi padat, pertama-tama kita harus bisa merumuskan apa yang akan kita tulis dalam sebuah kalimat pendek.

Rumusan itu akan merupakan fondasi tulisan. Tulisan yang baik adalah bangunan arsitektur yang kokoh fondasinya, bukan interior yang indah (kata-kata yang mendayu-dayu) tapi keropos dasarnya.

Mengumpulkan Bahan
Jika kita rajin menulis catatan harian, sebagian bahan sebenarnya bisa bersumber pada catatan harian itu. Namun seringkali, ini harus diperkaya lagi dengan bahan-bahan lain: pengamatan, wawancara, reportase, riset kepustakaan dan sebagainya.

Menentukan bentuk penuturan
Beberapa tema tulisan bisa lebih kuat disajikan dalam bentuk dialog. Tapi, tema yang lain mungkin lebih tepat disajikan dengan lebih banyak narasi serta deskripsi yang diperkaya dengan anekdot. Beberapa penulis memilih bentuk penuturan yang ajeg untuk setiap tema yang ditulisnya:

  • Dialog (Umar Kayam)
  • Reflektif (Goenawan Mohamad)
  • Narasi (Faisal Baraas, Bondan Winarno, Ahmad Tohari)
  • Humor/Satir (Mahbub Junaedi)

Menulis
Tata Bahasa dan Ejaan: Taati tata bahasa Indonesia yang baku dan benar. Apakah ejaan katanya benar, di mana meletakkan titik, koma dan tanda hubung? Apakah koma ditulis sebelum atau sesudah penutup tanda kutip (jika ragu cek kebuku rujukan Ejaan Yang Disempurnakan).

Akurasi Fakta
: tulisan nonfiksi, betapapun kreatifnya, bersandar pada fakta. Apakah peristiwanya benar-benar terjadi? Apakah ejaan nama kita tulisa secara benar? Apakah rujukan yang kita tulis sama dengan di buku atau kutipan aslinya? Apakah kita menyebutkan nama kota, tahun dan angka-angka secara benar?

Jargon dan Istilah Teknis: hindari sebisa mungkin jargon atau istilah teknis yang hanya dimengerti kalangan tertentu. Kreatiflah menggunakan deskripsi atau anekdot atau metafora untuk menggantikannya. Hindari sebisa mungkin bahasa Inggris atau bahasa daerah.

Sunting dan Pendekkan: seraya menulis atau setelah tulisan selesai, baca kembali. Potong kalimat yang terlalu panjang; atau jadikan dua kalimat. Hilangkan repetisi. Pilih frase kata yang lebih pendek: melakukan pembunuhan bisa diringkas menjadi membunuh. “Tidak” sering bisa diringkas menjadi “tak”, “meskipun” menjadi “meski” dan sebagainya.

Pakai kata kerja aktif: kata kerja aktif adalah motor dalam kalimat, dia mendorong pembaca menuju akhir, mempercepat bacaan. Kata kerja pasif menghambat proses membaca. Pakai kalimat pasif hanya jika tak terhindarkan.

Tak menggurui: meski Anda perlu menunjukkan bahwa Anda menguasai persoalan (otoritatif dalam bidang yang ditulis) hindari bersikap menggurui. Jika mungkin hindari kata “seharusnya”, “semestinya” dan sejenisnya. Gunakan kreatifitas dan ketrampilan mendongeng seraya menyampaikan pesan. Don’t tell it, show it.

Tampilkan anekdot: jika mungkin perkaya tulisan Anda dengan anekdot, ironi dan tragedi yang membuat tulisan Anda lebih “basah” dan berjiwa.

Jangan arogan: orang yang tak setuju dengan Anda belum tentu bodoh. Hormati keragaman pendapat. Opini Anda, bahkan jika Anda meyakininya sepenuh hati, hanya satu saja kebenaran. Ada banyak kebenaran di “luar sana”.

Uji Tulisan Anda: minta teman dekat, saudara, istri, pacar untuk membaca tulisan yang sudah usai. Dengarkan komentar mereka atau kritik mereka yang paling tajam sekalipun. Mereka juga seringkali bisa membantu kita menemukan kalimat atau fakta bodoh yang perlu kita koreksi sebelum diluncurkan ke media. (Farid Gaban)

Gara-gara Ngeblog Bisa Bikin Buku

Ini adalah pengalaman menarik dari Budi Sutomo soal kebiasaan menulis di blog. Posting aslinya dikirim ke milis Jurnalisme Publik:

Pertama kenal blog adalah dari rekan kerjaku. Awalnya aku agak kurang berminat, tetapi setelah aku gabung, ternyata sangat mengasikan dan bisa mengasah kemampuan dalam menulis.

Gara-gara blog juga aku jadi kenal dengan salah satu editor di sebuah penerbitan ternama. Dia tertarik dengan salah satu postingku tentang vco (Virgin Coconut Oil) dan setelah materi dikembangkan.

Jadilah sebuah buku yang berjudul kini Menu Sehat VCO. Untuk melihat buku hasil ngeblogku bisa di klik di www.budiboga.blogspot.com.

Teknik Penulisan Kolom (5):

APA SAJA YANG BISA DIJADIKAN TEMA ESAI?

Kebanyakan penulis pemula mengira hanya tema-tema sosial-politik yang bisa laku dijual di koran. Mereka juga keliru jika menganggap tema-tema seperti itu saja yang membuat penulis menjadi memiliki gengsi.

Semua hal, semua aspek kehidupan, bisa ditulis dalam bentuk esai yang populer dan diminati pembaca. “Beranda Kita”-nya Faisal Baraas menunjukkan bahwa tema kedokteran dan psikologi bisa disajikan untuk khalayak pembaca awam sekalipun.

Ada banyak penulis yang cenderung bersifat generalis, mereka menulis apa saja. Namun, segmentasi dalam media dan kehidupan masyarakat sekarang ini menuntut penulis-penulis spesialis.

  • Politik lokal (bersama maraknya otonomi daerah)
  • Bisnis (industri, manajemen dan pemasaran)
  • Keuangan (perbankan, asuransi, pajak, bursa saham, personal finance)
  • Teknologi Informasi (internet, komputer, e-commerce)
  • Media dan Telekomunikasi
  • Seni-Budaya (film, TV, musik, VCD, pentas)
  • Kimia dan Fisika Terapan
  • Elektronika
  • Otomotif
  • Perilaku dan gaya hidup
  • Keluarga dan parenting
  • Psikologi dan kesehatan
  • Arsitektur, interior, gardening
  • Pertanian dan lingkungan

Pilihlah tema apa saja yang menjadi minta Anda dan kuasai serta ikuti perkembangannya dengan baik. Fokus, tapi jangan gunakan kacamata kuda. (Farid Gaban)

Ikuti Pooling Buku Juli 2006

Klub Baca-baca kembali mengundang anda untuk berpartisipasi dalam 'Book Of The Month' Juli 2006.
Silahkan pilih salah satu dari empat buku di bawah ini, dan kirimkan pilihan anda melalui alamat reka.reka@yahoo.com.

Buku yang mendapat suara terbanyak akan menjadi buku pilihan untuk didiskusikan pada bulan Juli 2006 (terbuka untuk umum, keterangan tanggal, waktu dan tempat menyusul).

Pooling buku ini terbuka untuk umum. Kami tunggu pilihan anda hingga tgl 27 Juni 2006. Jangan sampai tidak memilih….karena partisipasi anda sangat berharga.Pilihan buku :

1. Kota-kota Imajiner
Penulis : Italo Calvino
Penerbit : Fresh Book

2. Memahami Dunia Lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim
Tentang Sosial Politik Globalisasi

Penulis : Franklin Foer
Penerbit : Marjin Kiri

3. Kiamat Sudah Lewat
Penulis: 20 Anak Aceh
Penerbit: KPG

4. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis: Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerbit: Mizan

Deskripsi singkat

1. Kota-kota Imajiner
Penulis : Italo Calvino
Penerbit : Fresh Book

Tiada kota lain yang lebih menikmati kehidupannya seperti Eusapia. Dan untuk mendekatkan jurang antara kehidupan dan kematian, para penduduk telah membangun tiruan identik kota mereka, di bawah tanah. Semua mayat, yang dikeringkan dengan cara tertentu sehingga tulang-belulangnya tetap terselubung kulit kuning, dibawa ke bawah sana, untuk meneruskan kegiatan-kegiatan mereka terdahulu.

Dan, dari kegiatan-kegiatan ini, momen-momen santai tanpa bebanlah yang menjadi kegiatan prioritas mereka: sebagian besar mayat itu didudukkan di sekeliling meja-meja penuh barang, atau ditempatkan dalam posisi berdansa, atau dibuat seolah sedang memainkan terompet-terompet kecil. Tetapi semua perniagaan dan pekerjaan kota hidup Eusapia juga berjalan di bawah sana, atau setidaknya mereka yang telah mati merasa lebih puas melakukan pekerjaan-pekerjaan layaknya orang-orang hidup: si pembuat jam, di antara semua jam rusak di tokonya, menempatkan telinganya yang menyerupai kertas kuno pada sebuah jam milik seorang kakek yang tak lagi berdetak; seorang tukang pangkas, dengan sikat rambutnya, membusai tulang pipi seorang aktor yang tengah mempelajari perannya, menyimak naskah dengan lubang-lubang matanya yang cekung; tengkorak seorang gadis yang sedang tersenyum memerah susu bangkai sapi muda. (hal 122, kota-kota & kematian – 3)

2. Memahami Dunia Lewat Sepak Bola: Kajian Tak Lazim Tentang Sosial Politik Globalisasi
Penulis : Franklin Foer
Penerbit : Marjin Kiri

Apa kaitan sepak bola dengan pembantaian Muslim Bosnia? Dengan budaya korupsi di Dunia Ketiga? Dengan bangkitnya sentimen-sentimen rasial dan konflik keagamaan? Dengan Zionisme maupun anti-Semitisme? Ikutilah perjalanan jurnalis politik Franklin Foer menyusuri jagat internasional sepak bola, bertemu dengan orang pertama yang melahirkan aksi-aksi hooligan, berkumpul dengan intelektual bawah tanah Italia pendukung Inter Milan, mengamati bagaimana falsafah El Barca penting untuk memulihkan konsep nasionalisme inklusif maupun citra sepak bola itu sendiri, serta segudang penelusuran memukau lainnya yang wajib dibaca oleh setiap penggemar bola maupun pengamat isu-isu sosial-politik.

3. Kiamat Sudah Lewat
Penulis : 20 Anak Aceh
Penerbit : KPG

Aku sempat melihat ibu digulung ombak. Aku menjerit memanggil ibu, dan aku pun digulung ombak…Aku
tenggelam dan ketika muncul lagi aku tinggal sendiri, aku kembali melihat ibu melambaikan tangan padaku dan ibu terus dibawa air ke tengah laut. Aku mau menolong ibu tetapi tak sanggup, karena ibu jauh dariku. Akhirnya ibu hilang, tidak tampak lagi.

Ada 20 cerita yang ditulis oleh anak-anak yang mengalami tsunami. Mereka menceritakan pengalaman
mereka yang menyedihkan, menakutkan, penuh kepanikan dan kecemasan tapi juga penuh harapan akan keadaan yang lebih baik. Mereka adalah anak-anak yang tangguh, berusaha sekuat tenaga menyelamatkan diri dan keluarga, juga orang-orang di sekitar mereka saat tsunami menghantam. Setelah tsunami berlalu, mereka menjadi anak-anak yang tabah, menjalani kegiatan seperti biasanya (sekolah), merintis kembali cita-cita yang mereka dambakan meskipun kehidupan sebagian besar dari mereka, tidak lagi selengkap dulu.

4. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken
Penulis : Jostein Gaarder & Klaus Hagerup
Penerbit : Mizan

Dua orang saudara sepupu yang tinggal di kota yang berbeda memutuskan untuk tetap menjalin komunikasi. Mereka memilih sebuah buku sebagai media komunikasi, buku itu ditulis kejadian-kejadian yang mereka alami untuk kemudian saling dikirimkan. Dalam buku itu, ada
tali peristiwa yang menghubungkan mereka, dan mereka percaya bahwa ada sesuatu yang besar dan membahayakan yang akan terjadi dalam dunia perbukuan dan perpustakaan. Novel ini menceritakan petualangan, cerita detektif, misteri, diramu dengan berbagai teori tentang sastra, puisi, drama, film yang ujung-ujungnya adalah sebuah rencana besar untuk dunia perbukuan dan perpustakaan. Satu lagi novel ide yang unik dari penulis “Dunia Sophie” yang terkenal itu.