Diwawancara Perspektif Baru: Blog Berdampak Dahsyat

pblogo.gif

Kalau biasanya sering mewawancarai, kini giliran saya yang diwawancarai. Apalagi yang ini sungguh sebuah kehormatan dan penghargaan besar bagi saya karena diwawancarai oleh host Perspektif Baru, Wimar Witoelar:

Pembaca Perspektif Baru di manapun Anda berada, saya Wimar Witoelar berjumpa kembali dengan Anda. Di sini jujur saja, saya sangat excited karena ada tamu yang sangat exciting, yaitu Budi Putra. Menurut saya, dia adalah orang nomor satu atau nomor dua dalam dunia internet, khususnya blogging, di Indonesia. Budi Putra adalah redaktur informasi teknologi (IT) di Koran Tempo dan Content Manager di Tempo Interaktif. Dia juga penulis kolom di blog CNET Asia.

Budi Putra menyarankan kita untuk mulailah dari sekarang nge-blog. Blog adalah satu tempat yang sangat luar biasa untuk kita mengekspresikan diri. Blog mendorong semua orang agar bisa menulis. Kemampuan menulis tidak hanya dimiliki oleh wartawan atau penulis buku. Melalui blog seorang ibu rumah tangga juga bisa membuat diary seperti mengenai resep masakan saja. Seorang atlet bisa menulis tentang tips-tips kesehatan. Jadi kemampuan menulis adalah suatu sarana yang membuat kita makin lebih menguasai sesuatu yang sudah kita baca dan amati. Nah, blog merupakan muara dari semua itu.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Budi Putra. Baca selengkapnya.

Via TheGadget

Iklan

Against domination, let’s build media communities

Written by Nursidah “Nida” Abdullah of Hasanuddin University, this article tries to view toward the extension of mass media in the future, by critical perspective from one of Mass Communication Theory; Cultural Imperialism Theory. Thanks, Nida!

CULTURAL IMPERIALISM THEORY

Explanation of Theory:

Cultural Imperialism Theory states that Western nations dominate the media around the world which in return has a powerful effect on Third World Cultures by imposing n them Western views and therefore destroying their native cultures.

Theorists: Herb Schiller
Date: 1973
Primary Article:  Schiller, H. J. (1973). Communication and Cultural Domination. White Plains, NY: International Arts and Science

The long-term efforts of human to build their civilization and world history has created curves against humanity faces. Human, with an Anthropocentrism world of view has grown up superiorly than the other things in this world.

Not only like that, apparently they also have made hierarchy in social life interactions. Karl Marx says there are social classes in the society. His Assumption is based on capital resources of authority (HCR- NCR). They are bourgeois class and proletarian class. And , if you believe, there is no ahistorical side, ..of course..too easy to summarize that everything has their own history. Even, social constructions and one of them is imperialism. Absolutely.

Let me say ..this isn’t a silent story. But, on the other hand..some times we say like this.. ”yes, I see, the World Is built by imperialism, but I don’t have ability, nor is it right, to fight that because we don’t have a power…”

In my mind..that is absolutely wrong way. Not because of we are powerless, but hopeless. But, not all of us like that…Of Course.

Media theorist, James W. Carey said that “a ritual view of communication is directed not toward the extension of messages in space but toward the maintenance of society in time;not the act of imparting information but the representation of shared beliefs”

Media size up means take a look at history again. Therefore, using Cultural Imperialism Theory as perspective is still relevant today. And finally, talking about mass communication means talking about the power of media as medium in information distribution its self.

Media domination by Western nations has produced a media reality image, West is the Best. Mass Communication Theory above stritcs is destroying native cultures is the effects by this situation, if we are just silent… and let’s this condition become snowball either, without criticism retrospect.

Based on this thing, it is reasonable if our native cultures are going to abrade by outsider cultures penetration. From now on.. we can see that the Indonesian Program Television is far away from native cultures exploration, but on the other hand TV Station program today explore too much in metropolitan life style which are outlandish things for Indonesian people, specially for villagers and islanders.

An offer to solve this problem is making media community. Media Community is an alternative and independent media for people. This is kind of media which is built by a group of people who have common goal and social contract. And, it’s consist of radio, TV channel, magazine, newspaper,etc.

Gradually, I hope media communities become counter attack and counter culture against west media domination and alternative mass media for people in every place in Indonesia. So..our truly native culture can recognizable, not just for Indonesia generation, but people in worldwide.

Lomba Penulisan Skenario Film

Nih ada kesempatan buat Anda semua unjuk kebolehan! Ikuti Lomba Penulisan Skenario Film Cerita 2006 yang diadakan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI dengan Tim Pokja Film Kompetitif.

Syarat-syaratnya:

  • Lomba ditutup pada 15 November 2006 dan pengumuman pemenang dilakukan pada Desember 2006.
  • Durasi 90 menit/halaman.
  • Kirimkan dua copy dilengkapi disket/CDR.
  • Karya asli belum pernah dipublisir.
  1. Hadiah I: Rp. 35 Juta
  2. Hadiah II: Rp. 30 Juta
  3. Hadiah III: Rp. 20 Juta
  4. Harapan I Rp. 15 Juta
  5. Harapan II Rp. 12,5 Juta
  6. Harapan III Rp. 10 Juta
  7. 10 Terpilih @ Rp. 5 Juta

Kirim naskah ke Gedung Film Lt. 4 Jl MT Haryono 47-48 Jakarta Selatan.

Ayo, buktikan Anda bisa bikin skenario film bagus dan menang!

Lomba Cerpen Radio Nederland

Kirimkan cerpen-cerpen terbaik Anda! Radio Nederland Indonesia (RANESI) biasa memuatkan cerpen-cerpen pilihan di situsnya setiap Senin. Kali ini RANESI mengundang Anda untuk mengirimkan cerpen terbaik Anda (dalam bahasa Indonesia sesuai EYD) ke Lomba Cerpen RANESI 2006.
Persyaratan:

  • Cerpen Khusus Ranesi adalah cerpen yang bermakna, berdayacipta dan satu satunya dalam hal gaya ungkap cara berkisah. Isi dan pesan menyangkut Belanda dan atau hubungan Belanda Indonesia dalam bingkai waktu silam, kini dan masa datang.
  • Mematuhi kaidah-kaidah bahasa Indonesia dengan tidak mengurangi kelenturan kelenturan cara berbahasa tutur yang bermartabat.
  • Mengutamakan pemuliaan kosakata Nusantara, dengan menghindari pemujaan berlebihan pada kosakata “blasteran, asing, kebarat-baratan” secara tidak perlu.
  • Panjang cerpen antara 220 – 260 baris dalam huruf Arial ukuran 11 (hanya untuk pedoman) sehingga jika dibacakan secara kering bertenggang waktu antara 22 – 26 menit. Tulisan tangan diterima asal ditulis jelas dan memenuhi syarat panjang naskah.
  • Naskah-naskah yang dikirimkan tidak sedang dikirimkan ke media lain, dan tidak dikembalikan. Dalam hal ini tidak diselenggarakan surat menyurat. -Cerpen-cerpen yang dimuat dan atau diudarakan mendapat imbalan Rp 1.000.000,- (sejuta rupiah) bagi yang tinggal di Indonesia dan 100 Gulden bagi yang tinggal di luar Indonesia, sudah termasuk saat naskah tersebut dimasukkan sebagai bagian sebuah buku yang diterbitkan.

Baca lebih lanjut

Suratkabar di Padang Monoton

Saya di Padang melahap tiap hari semua harian yang terbit di Padang: Padang Ekspres, Haluan, Singgalang, dan Pos Metro Padang. Apa yang saya peroleh dari empat media itu? Tak lebih rasa jengkel!

Surat kabar yang terbit di Padang (terutama harian)–jika mau memperoleh informasi yang dalam dan berita yang tajam–jangan harap. Berita yang diturunkan tak lebih dari aktivitas pejabat semenjak dari gubernur sampai camat di Sumatra Barat.

Apa yang dapat kita petik–taruhlah, misalnya, selama Ramadan ini–semua harian yang terbit di Kota Padang menurunkan berita safari Ramadan para pejabat dan juga anggota dewan. Apa yang dapat kita ambil dari berita-berita yang sifatnya seremonial peresmian ini dan itu.

Kita tidak akan pernah menjumpai tulisan panjang yang bersifat invesigasi tentang masuknya gula ilegal ke Sumatra Barat, misalnya. Kita tak akan menemui tulisan mendalam yang konprehensif, misalnya, bagaimana strategi petani untuk dapat menembus pasarinternasional jika kelak tanaman kakao, yang kini sedang giat dikembangkan di petani Sumatra Barat, dua-tiga tahun ke depan petani kita memanennya.

Saya–terus terang–merasa prihatin jika kondisi suratkabar yang terbit di Sumatra Barat hanya berkutat sebagai corong pemerintah daerah. Kondisi demikian, dapat kita simak setiap hari.
Salam, Nasrul Azwar, Padang.

Lomba Karya Tulis Telkom 2006

Bagi wartawan media cetak dan online, terbuka kesempatan mengikuti Lomba Karya Tulis Jurnalistik Telkom 2006. Temanya: Kerja keras dan Inovasi, Kunci Menuju Layanan Telekomunikasi yang Berkualitas dan Murah. Karya yang akan diperlombakan sudah harus dimuat di media masing-masing pada periode 1 s.d 27 September 2006.  Hadiahnya lumayan: Rp25 juta bagi Juara 1.

Informasi lengkapnya lihat di sini.

AJI Gelar Lomba Penulisan tentang Anak

Kasus kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini semakin marak dilaporkan oleh media massa. Jumlah kasus yang sebenarnya terjadi di masyarakat mungkin jauh lebih banyak daripada yang diberitakan di media, mengingat kejadian-kejadian yang terjadi di lingkungan keluarga dan sekolah sering tidak dilaporkan.

Temuan UNICEF dan Lembaga Perlindungan Anak pada tahun 2002 dan 2003 di Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur menunjukkan seriusnya masalah kekerasan terhadap anak. Meskipun kehati-hatian diperlukan untuk tidak begitu saja menganggap temuan ini sebagai cerminan keadaan di Indonesia, namun temuan ini memperingatkan akan tingginya angka kekerasan terhadap anak.
Baca lebih lanjut